Monday, September 30, 2019

Berkaca lagi

Wahai diri ku, wahai kawan sejati ku, dari dulu kau menemani ku, dalam setiap tawa, engkau adalah imaginasi, dalam setiap air mata, engkau adalah penghayatan. Disela-sela paling hening, engkau adalah kesendirian, bersama ku terbang penuh kebencian dan harapan. Kejujuran mu adalah kedurhakaan mu, sedangkan senyuman mu adalah kebohongan. Di sunyi malam saat kau terbangun ingin membuang kotoran, kau teringat Tuhan, lalu kau tunaikan penyembahan mu yang lemas karena terganggu rasa putus asa. Saat muncul lagi pagi, kau buka mata mu, kemudian kau memandang langit yang bercahaya indah di sebelah timur, kau teruskan perjalanan mu yang penuh guyonan dengan pengalaman yang  baru. Kau pelajari, dan kau harus menelan kekecewaannya, tapi ternyata kita terlupa wahai sahabat, kau lupa siapa yang memanggil mu itu, bukankah mereka juga anak dari buah pikiran mu, yang telah juga tercampur walau jika hanya sedikit dari harapan yang kau cita-cita kan, lalu jangan lagi engkau berburuk sangka atas ketulusan. Sadarlah diri ku, sadarlah sahabat ku. Maafkan aku wahai adik-adik ku.

Dialog

Matahari bertanya pada bumi, "wahai planet yang paling ku kasihi, engkau yang terindah diantara 7 planet lainnya, apakah kau merasa unggul dan bahagia?. Bumi menjawab, "wahai Raja Bima Sakti, aku tak pernah mampu menjawab pertanyaan mu itu, aku dicipta untuk menopang langkah manusia, yang ku saksikan bukan hanya tawanya, tapi juga tangisnya. Bukan hanya madunya, tapi juga darahnya. Hal apakah yang membuat ku bahagia, kemudian membutakan mata ku dari ratapan yang ada?". Bumi berkata "wahai sang perkasa di galaksi, engkau memang memberikan ku terang, tapi kelelawar adalah bagian dari penghuni ku, cahaya mu baginya adalah panah-panah yang menusuk mata. Surya berkata, "aku tak mampu menembuskan api pada awan-awan yang berkumpul kokoh pada atmosfer mu, aku tak mampu menguapkan hujan sebelum jatuh di pelataran tubuh mu, aku hanya melakukan sebatas kemampuan ku". Bumi berkata, "demikian pula aku menyediakan ikan-ikan pada lautan yang luas, sumber mata air yang segar, aku juga menumbuhkan berbagai pepohonan di atas tubuh ku. Semua itu hanyalah sebatas kemampuan ku memenuhi penghidupan mereka para penghuni ku. Segala apa yang aku berikan, belum tentu membuat mereka lepas dari tangis". Matahari bertanya, "bagaimanakah manusia yang hanya seukuran debu itu bagi ku?, mengapa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dari kita?. Padahal kau tahu, hanya setitik saja ku ludahi kepalanya, maka tengkoraknya tak akan bersisa". Bumi berkata, "aku tahu itu, dengan hanya cambukan sehelai rambut kilat ku, manusia juga akan tercabut nyawanya". Matahari bertanya "lalu, wahai Bumi yang selama ini menjadi ibu bagi rumah-rumah manusia, siapakah menurut mu manusia itu?". Bumi menjawab "aku juga memiliki penghuni, yaitu semut, aku melihatnya mampu memikul beban yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Ada lebah yang mengepakkan sayap dengan sangat cepat dalam satu detiknya, namun sayapnya tidak pernah terbakar. Ada ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, dan ada jauh lebih banyak lainnya, aku sendiri tak mampu menghitungnya, aku hanya mampu melihat sedikit hal dari apa yang ada di atas pelataran ku, Tuhan sangat berkuasa atas segalanya, aku menyerah. Wahai sang surya, Aku menduga bahwa manusia lebih kuat dibanding kita karena mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki, yaitu perasaan yang mampu berkorban demi cinta kasih, berlaga demi kebajikan, dan berjuang memperoleh kebenaran. Mereka diuji dengan beban tubuh, pikiran, dan hati. Mereka terus bergulat meskipun seandainya tidak memiliki musuh, karena setiap hari mereka harus menahan atau melawan serangan yang muncul dari dalam diri mereka sendiri yang tak nampak. Wahai Sang Surya, kita hanya dapat melihat air mata yang mengalir, darah yang berjatuhan, dan terikan yang memekakkan telinga, namun kita tak pernah tahu, sedalam dan sekelam apa sumber dari semua itu muncul dari luasan jiwanya. Lebih baik kita melakukan Tugas kita apa adanya, karena yang ku tahu dari sedikit rahasia tentang mereka, bahkan hanya sedikit di antara mereka yang mengetahui makna-makna yang ada terhadap sesamanya, apalagi kita yang hanya menyaksikan tanpa pernah menjadi manusia".

Wednesday, September 25, 2019

Go

Lalu aku merdeka, aku bahagia, aku tertawa,  aku jadi butiran udara, di semesta.

Wes

Suatu saat aku akan memiliki sayap, tubuh ku dapat menembus setiap dinding, dan menggapai dasar laut. Aku telah menanti hadirnya Tuhan, bersama dengan ku berjalan, menceritakan segala makna dan rahasia. Aku menunggu Tuhan, menemui ku dengan senyum dan guyonan, seperti manusia yang bertemu sahabat lama. Ohhh... Waktu ku nanti-nanti, segala apa yang ku lakukan bukanlah untuk mu Tuhan, tapi karena dalam diri ku ada cinta kasih, tapi engkau pun tahu, aku ingin bersama mu, aku takut kuasa mu, aku ingin rahmat mu. Kau tahu, sudah terasa terbakar tubuh ku, otak ku telah terbongkar, dan hatiku telah runtuh. Lalu aku disini, menunggu, engkau akan menghidupkan ku lagi dimana... Apapun mengapa tak pernah kau ingin disalahkan?. Lalu kau tahu seperti apa makhluk mu, lalu aku yakin kau akan memaklumi, kuasa mu akan terjadi, sebagaimana kata hati dan takdir mu ku nanti, harap ku indah itu akan ku temui.

Tuesday, September 17, 2019

Orang-orangan

Masa kecil ku.
Saat ku tahu, manusia tak selalu mampu meneduhkan pikiran, maka aku hanya akan bersama para kawan kecil ku, batu-bata yang ku susun sebagai bangunan, ku cipta dunia milik ku. aku penentu cerita kehidupan, dan akulah dibalik setiap geraknya, awal maupun akhir. Aku adalah Tuhan dalam dunia ku. Pada saat bermain itu, aku belajar, aku berkontemplasi, membuat ukuran kecil bumi dalam segundukan pasir, ku coba hayati perjalanan waktu, ku amati kejadian-kejadian. Kemudian, aku merasa janggal, bahwa sebenarnya Tuhan mampu membuat surga dengan tak usah banyak hiasan, seperti halnya aku dapat memiliki sesuatu yang sangat sederhana, mainan yang hangus karena ku perankan sebagai korban "bom bawah tanah", terlempar, gosong, namun hanya keberanian, pantang menyerah, senyum, tanpa rasa sakit meskipun sekarat, begitu aku menyeting kehidupan para mainan makhlukku yang ku beli dan ku modifikasi, aku tersenyum mengingat ini kembali, rasanya baru kemarin aku sebahagia itu. Aku masih ingat, betapa kesendirian ku sangat seru. Bahkan aku sangat tidak suka bermain bersama kawan, aku lebih suka bermain sendiri, aku sudah merasa tertemani oleh keramahan imaginasi, terlintas aku berfikir, Tuhan itu sendiri, namun dia bahagia sebagai dalang kehidupan, sayangnya makhluknya dapat merasakan kesakitan jiwa maupun raga, aku dulu dengan hati menentukan arah kehidupan wayang-wayang ku, apakah kau juga begitu Tuhan?. Dengan hati?.

Friday, September 13, 2019

Arak

kisah seorang anak yang kehilangan tawa Sejak saat masih kecil. Seperti halnya manusia lain, ia tak pernah tahu alasan kehidupan, pun ia tak pernah tahu  tentang apa yang akan datang, dia menerima suatu kenyataan yang menyakitkan. Seperti halnya pula manusia lain, saat dia menginjak dewasa, dia mulai mencari makna. Suatu saat dia merasa bahwa menjadi bijaksana itu memang harus bersama cinta, tanpa cinta dunia ini sama sekali tak berguna, dan kau sulit mampu bertahan menjadi orang yang baik jika hidup mu sama sekali tak bersama cinta. Kebaikan di dunia ini muncul hanya karena cinta kasih. Karena sampai detik kehidupannya saat ini dia merasa tak juga menemukan kepedulian Tuhan, tentu apa bergunanya lagi keberadaan. Maka jika ada manusia yang berputus asa, dia akan juga mengerti tentang apa yang ada. Maka dengan jujur dia berkata, tidak apa-apa jika kau berputus asa, memang manusia jika kehidupannya banyak tangis, lelah, tentu harus dimaklumi, Tuhan pun harus dimaklumi jika doa yang kita panjatkan belum dikabulkannya bukan?. Berputus asa dari rahmat Tuhan, kau hina mereka yang melakukan itu?, kau tahu setiap orang tak bisa dipaksa seperti pikiran mu, seperti jiwa mu, apalagi seperti model potongan mu.

Thursday, September 12, 2019

Itu

Jika memang kau lihat matahari lebih besar dari bumi, namun kau tahu bumi rusak bukan karena matahari, tapi karena penduduk bumi itu sendiri. Kau menyalahkan seseorang yang kau anggap lebih tinggi, kemudian kau bela seseorang yang lebih rendah karena kau anggap diri mu orang yang pengasih, itu kekonyolan.

Tak boleh

Tidak berhak bagi seseorang ikut campur masalah pribadi seseorang, karena banyak mereka yang terlalu percaya diri hendak membantu menyelesaikan masalah orang lain, malah menambah masalah karena ketidak-tahuan persoalan, nafsu, dan kebodohan. Apalagi ikut campur masalah orang karena kedengkian atau niat buruk.

Wednesday, September 11, 2019

Tuju

Apakah tulisan itu?, mengapa ada karya ilmiah?, Mengapa ada puisi?, karena ketegasan ada dalam kebenaran, dan kelembutan ada dalam kebaikan?. Tak harus suara terdengar, tulisan yang baik pun akan seperti nyanyian. Untuk apa mengutuk kebodohan yang jujur dan malah memuji kepintaran yang licik?. Warna, merah bersama putih menjadi merah muda, mengapa bahasanya tidak putih kemerah-merahan?, karena keindahan ada pada taman, dan simbol ada pada kain. Kau tahu bahwa kau tidak mengerti dalam perjalanan itu titik apa yang kau tuju sesungguhnya, kau hanya berjalanan untuk suatu kemungkinan menemukan sesuatu, puing-puing riwayat mu sebelum kau menerima kahidupan. Mari terus berjalan, hingga jalanan itu sendiri yang menunjukkan diri mu kembali pada diri mu?.

Hebat

Diantara para manusia yang hidup, siapakah yang lebih mulia dari pada malaikat?. aku ingin bertanya, jika malaikat menjadi simbol kemuliaan, maka mereka yang tak menginginkan sesuatu adalah yang termulia, adakah manusia yang tak menginginkan apapun?, kadang pula aku bingung apakah arti mengharap ridho Tuhan, bukankah itu keinginan?, kata-kata itu bagi ku tak pantas keluar dari mulut yang tak ada cinta dihatinya pada Tuhan, bagaimana kau tahu bahwa kau mencintai Tuhan, apakah kau sanggup melihat orang terkasih mu terkoyak-koyak tubuhnya, menjerit-njerit batinnya karena petaka?, apakah cukup dengan berkata itu kuasa sang pencipta lalu kau bisa bahagia?. Satu-satunya hal paling ikhlas dalam hidup adalah "mengeluarkan kotoran", tentu, betapa rendahnya nilai diri, namun aku mencari-cari manusia yang rela menggantikan manusia yang lain memasuki neraka, adakah cinta sehebat itu?. Mereka berbicara tentang penebusan dosa oleh kematian penggembala manusia, mereka berbicara tentang cinta-kasih, cinta-kasih, lalu, mengapa harus hanya dosa, mengapa bukan duka?. Terkadang aku berfikir, perjalanan ini tak pernah selesai, kecuali pula jika Tuhan sendiri yang mencukupkan.

Kibas

Ku kibaskan tangan kanan ku dari cahaya mu, agar tak perlu lagi kebaikan mu membuat ku malu, tapi aku tak mampu mengelak dari semua itu, dari dalam diri mu aku mencerca kuasa mu, ku abaikan segala senyum ku dari segala pemberian mu yang ku tak tahu, jika aku takjub pada neraka yang menyala-nyala, apakah itu membuat ku bangga dan bahagia?, semua terasa melambat haru, panas siang seperti hujan, segalanya aku belakangi dan aku dustai, menyembunyikan pertanyaan tentang apa peduli mu pada teriakan ku Tuhan?.

Wednesday, September 4, 2019

Lakukan saja

Dia bahkan ingin memetik pintu gerbang kekosongan, tapi tidak dengan penyerahan.

Tanya

Jika aku bertanya pada mu Tuhan, apakah kau akan menjawabnya?. Bagaimana cara mu menjawab ku?, aku apa adanya tentang mu, bahwa yang ku tahu kau hanya melakukan sesuatu tentang kebutuhan atau keinginan, kau seperti seseorang yang berkeliling pada jalanan yang dipenuhi peminta-minta, lalu kau mendengar permintaan kemudian kau berikan, jika ada peminta yang tak kau beri, karena ketakutannya untuk mencela mu, mereka kemudian mengatakan dirimu masih menyimpan sesuatu yang lebih baik bagi mereka, entahlah... Aku rasa itu lelucon... Dengan demikian maka bagaimana kah seharusnya seseorang meminta pada mu yang benar?, kau katakan kau akan mengabulkan para pengemis, bukankah manusia lebih dari pada pengemis, dengan begitu dimanakah letak keramahan mu?, jika kau lembut pada ku, mengapa tak kau sentuh diri ku ?. Mereka memuji diri mu seperti manusia buta, atau aku yang begitu durjana hingga batu pun tak lebih keras dari kepala ku?. Mereka menyanjung mu karena takut dan bodoh, bukan karena kesadaran, apalagi cinta. Datanglah... Seperti harapan para manusia untuk hidup tersenyum bahagia.

Darah

Seperti kau pernah melihat burung yang tulang sayapnya patah penuh darah, kau tangkap burung itu, kau lihat burung itu meronta tak ingin kau pandang lemah, meskipun dia tak lagi bisa terbang, dia sendiri, temannya hanyalah rumput yang dipijaknya, namun kau lihat dia terus mencoba menjalani dan menanti hingga mati tanpa harus berserah diri di ujung maut tanpa perang di tangan mu, dia membawa luka perih sampai akhir atau sembuh oleh waktu, dan dia tahu bahwa dia tak pernah tahu tantang waktu.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...