Banyak syair yang tersusun karena duka, seperti terkelupasnya kulit pada buah, harumnya akan lebih banyak terpancarkan.
Jalan sepintas telah banyak melontarkan kutuk, air mata telah melahirkan keindahan. Sebutir biji yang telah kering, Pada tanah yang tersentuh hujan, Dia akan tumbuh meskipun terbuang.
Mereka memuliakan seekor burung cantik dan bersuara merdu dengan sangkar emas, padahal tangis maupun tawanya sama indah di mata dan telinga mereka. Dengan cara apa seekor burung menunjukkan isi hatinya?, kicauannya bukanlah bahasa bagi manusia, hanya alunan nada dan reka-reka tanda.
Untuk apa pujian pada manusia dengan kata yang menawan dan aksara tingginya, padahal semua bergerak sebagai bentuk tangisan selain air mata.
Maka biarlah mencela siapapun yang ingin menghina!. Pesankan pada setiap hembusan nafas mu bahwa semua itu sia-sia!.
Biarkanlah aku sendiri, membawa setiap apa yang aku percayai, udara bukanlah tak berisi, Dia menyimpan kehidupan yang membuat ku bahagia.
No comments:
Post a Comment