Thursday, January 23, 2020
tidak akan
Baiklah, aku telah menyerah pada dinding yang kau pancangkan dihadapan mata ku, akan terus aku pandangi langit agar menurunkan bunga-bunga pada mu, bukan aku menentang dan menghina pada langit tentang kuasanya, hanya karena aku tak mau lagi menghimpit permintaan jiwa yang terhanyut pada angin yang berhembus tanpa mampu aku belokkan. akan aku bersihkan kembali bayangan batu itu sebagai tempat bertapa. aku meminta kepada cahaya mu wahai surya, kirimkanlah pada ku burung yang bersiul ceria di pagi hari, dan gonggongan anjing dimalam hari. Perdengarkan pada ku tentang keramaian pesta dibawah atap-atap bisu, bagaimana kupu-kupu mati menguncupkan sayapnya, begitu pula jika bumi ini aku najiskan dengan tipu daya, aku akan ada dihadapan mu untuk apa?.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment