Wednesday, January 29, 2020
senjata
Sedikit ku depankan langkah ku, ku amati mengalirnya air disungai, ku resapi tiupan angin yang mendesir, kemana berhentinya aliran ini dan ke arah mana angin ini berkumpul?. ingin lagi aku rasanya melihat simbol-simbol awan, dibelakang bangunan yang ku rindukan itu. sungguh aku takjub dengan apa yang terbang berjejeran membentuk hiasan-hiasan, begitu senang dan tenangnya menatapi kepengasihan mu. Lalu seperti terbangunkan dari tidur, ingatan yang begitu lama itu meninggalkan kesan seperti hanya mimpi, pertumbuhan usia seperti mengaburkan bintang-bintang yang menjadi mainan ku, mungkin karena cemoohan ku pada kenyataan itulah yang menghilangkan gambarannya, kekosongan ini telah menyebar menjangkiti imaginasi. Dulu, jika tubuh ku ini hidup di atas tanah, imaginasi ku masih mampu terbang bersama angin. kini aku mencoba merakit sambungan gulungan kertas untuk menjadikannya tali, aku ingin menangkap sebongkah awan dilangit, agar aku dapat kembali seperti dulu dimasa depan. Setelah ku tulis ini, rasanya yang mana harus ku dahulukan dan atau ku akhirkan, antara tersenyum dan tertawa atau bagaiamana...πππ or πππor......
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...
No comments:
Post a Comment