Thursday, January 23, 2020

Cahaya di atas Cahaya

Kemanusiaan (humanisme) adalah sifat-sifat dasar yang melekat dalam diri manusia berupa tingkah laku, pikiran, maupun kejiwaan dalam hubungannya terhadap manusia lain. Kemanusian merupakan sifat yang bebas dari segala bentuk perintah atau larangan agama. Kemanusian merupakan sifat yang dapat dikembangkan atau dimerosotkan melalui penghayatan, pengalaman, dan kesadaran terhadap bentuk cinta kasih dalam kehidupan. Tidak ada ukuran yang jelas dalam menentukan kualitas kemanusiaan seseorang, meskipun yang terbaik adalah yang memiliki kualitas dalam aspek ini. formalitas kemanusiaan tidak ada yang menuliskan. Manusia cenderung bersifat egois, hanya karena ia sadar bahwa pertentangan merupakan efek dari perbedaan ke-egoisan dari kepentingan masing-masing individu, dan kemudian mampu mengolah dan berusaha menempatkan diri di keputusan yang baik, maka itu bagian dari kesadaran yang mewujud dari kemanusiaan. Manusia yang melakukan kebaikan karena motif agama, tidak dapat disebut bahwa orang tersebut melakukan kemanusiaan, dia melakukan penghambaan. Dalam sosiologi tataran masyarakat, bentuk kemanusiaan adalah bentuk yang paling disukai, setiap manusia memimpikan cinta kasih yang ikhlas, namun dalam formalnya untuk mewujudkan tatanan yang baik dalam masyarakat yang mengalami degradasi pikiran, moral, dan kejiwaan, bentuk ancaman neraka nyatanya memberikan pengaruh terhadap penekanan keburukan atau kejahatan secara perbuatan fisik, meskipun kering secara emosi. Selain itu undang-undang negara dibuat untuk mengendalikan tatanan tersebut, sebuah rangkaian yang sebenarnya terpisah secara ideologi dan motif, namun bermanfaat dalam sosiologi secara mutual, itulah cahaya di atas cahaya.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...