Wednesday, January 29, 2020
senjata
Sedikit ku depankan langkah ku, ku amati mengalirnya air disungai, ku resapi tiupan angin yang mendesir, kemana berhentinya aliran ini dan ke arah mana angin ini berkumpul?. ingin lagi aku rasanya melihat simbol-simbol awan, dibelakang bangunan yang ku rindukan itu. sungguh aku takjub dengan apa yang terbang berjejeran membentuk hiasan-hiasan, begitu senang dan tenangnya menatapi kepengasihan mu. Lalu seperti terbangunkan dari tidur, ingatan yang begitu lama itu meninggalkan kesan seperti hanya mimpi, pertumbuhan usia seperti mengaburkan bintang-bintang yang menjadi mainan ku, mungkin karena cemoohan ku pada kenyataan itulah yang menghilangkan gambarannya, kekosongan ini telah menyebar menjangkiti imaginasi. Dulu, jika tubuh ku ini hidup di atas tanah, imaginasi ku masih mampu terbang bersama angin. kini aku mencoba merakit sambungan gulungan kertas untuk menjadikannya tali, aku ingin menangkap sebongkah awan dilangit, agar aku dapat kembali seperti dulu dimasa depan. Setelah ku tulis ini, rasanya yang mana harus ku dahulukan dan atau ku akhirkan, antara tersenyum dan tertawa atau bagaiamana...πππ or πππor......
Sunday, January 26, 2020
kendali
Berhenti mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Segala sesuatu diluar diri kita sendiri adalah hal yang tak mampu kita kendalikan. Fokus pada diri sendiri, pikiran, perasaan, kelakuan, dan ucapan. Jangan bersandar pada kefanaan, karena sekejap akan dapat hilang. Pikiran bukanlah kenyataan, kenyataan itu sesuatu yang ada diluar diri kita, maka kita perlu mengatur pikiran dengan lebih bijak. Pikiran hanyalah persepsi, pendapat, sudut pandang subjektif dari suatu peristiwa yang terindera, bukan makna sejati dari kenyataan itu sendiri. Berdamailah dengan diri sendiri!.
Thursday, January 23, 2020
kesalahan
Manusia tidak bisa lepas dari kesalahan, karena kesalahan itu adalah hukum dasar pengembang peradaban kehidupan, manusia seperti dikutuk untuk melakukan kesalahan, karena memang begitulah dunia dapat berputar. kesalahan itu antropologis. Tetapi bukan berarti meremehkan kesalahan, bagaimanapun manusia sengaja atau tidak akan tetap menanggung akibat dari setiap kesalahan tersebut, maka setiap diri harus berhati-hati.
Cahaya di atas Cahaya
Kemanusiaan (humanisme) adalah sifat-sifat dasar yang melekat dalam diri manusia berupa tingkah laku, pikiran, maupun kejiwaan dalam hubungannya terhadap manusia lain. Kemanusian merupakan sifat yang bebas dari segala bentuk perintah atau larangan agama. Kemanusian merupakan sifat yang dapat dikembangkan atau dimerosotkan melalui penghayatan, pengalaman, dan kesadaran terhadap bentuk cinta kasih dalam kehidupan. Tidak ada ukuran yang jelas dalam menentukan kualitas kemanusiaan seseorang, meskipun yang terbaik adalah yang memiliki kualitas dalam aspek ini. formalitas kemanusiaan tidak ada yang menuliskan. Manusia cenderung bersifat egois, hanya karena ia sadar bahwa pertentangan merupakan efek dari perbedaan ke-egoisan dari kepentingan masing-masing individu, dan kemudian mampu mengolah dan berusaha menempatkan diri di keputusan yang baik, maka itu bagian dari kesadaran yang mewujud dari kemanusiaan. Manusia yang melakukan kebaikan karena motif agama, tidak dapat disebut bahwa orang tersebut melakukan kemanusiaan, dia melakukan penghambaan. Dalam sosiologi tataran masyarakat, bentuk kemanusiaan adalah bentuk yang paling disukai, setiap manusia memimpikan cinta kasih yang ikhlas, namun dalam formalnya untuk mewujudkan tatanan yang baik dalam masyarakat yang mengalami degradasi pikiran, moral, dan kejiwaan, bentuk ancaman neraka nyatanya memberikan pengaruh terhadap penekanan keburukan atau kejahatan secara perbuatan fisik, meskipun kering secara emosi. Selain itu undang-undang negara dibuat untuk mengendalikan tatanan tersebut, sebuah rangkaian yang sebenarnya terpisah secara ideologi dan motif, namun bermanfaat dalam sosiologi secara mutual, itulah cahaya di atas cahaya.
nyala
Nyala dari "pentolan korek ku ini" akan dihabisi oleh banyaknya lampu-lapu indah itu, dan aku akan mendapat jalan yang terang, karena semua itu adalah pertanyaan yang berbaju pernyataan, meskipun aku mendapat pula hujatan. Maka sungguh yang ku niatkan bukanlah pertunjukan nyala ditangan ku ini, namun agar kalian menerangi ku dengan warna-warni cahaya lebih terang.
Meluap
Katanya, orang akan berbicara segala sesuatu karena sudah terlalu banyak simpanan yang ada dalam dirinya, ibarat air penuh tetapi masih terus diisi. segala apa yang dilihat, dibaca, didengar, diprasangkai, akan keluar begitu saja tersampaikan kehadapan partner bicara. Tidak peduli merendahkan orang lain, keluarganya sendiri, bahkan dirinya sendiri. Ia seolah menjadi seorang yang berumur seribu tahun, seolah telah bergentayangan menembus ruang hati orang lain, dan lalu seolah menjadi penyambung lidah bagi setiap manusia. Lalu apa yang diharapkan dari melakukan semua kekonyolan itu?.
Identitas
Identitas kebangsaan penting, apalagi identitas keagamaan. Simbol, bahasa, dan budaya adalah bagian dari ciri khas yang menandai keberadaan sesuatu yang lain dari yang lainnya pula. Meskipun sesuatu berangkat dari akar sejarah yang sederhana, jika hal tersebut telah teradopsi menjadi identitas tertentu, maka hal tersebut harus dimaknai sebagai identitas, bukan sesuatu yang secara umum dapat digunakan sembarangan. Identitas adalah bagian dari harga diri, sedangkan pengkaburan/penyamaran sebagai pemererat toleransi nyatanya malah ditunggangi oleh tujuan-tujuan tertentu. Kami berterimakasih dan menghargai setiap bentuk kepedulian, namun jika dengan cara pandang yang tidak seharusnya digunakan, kami merasa terbodohi, bukan tercerahkan.
hatilah yang menghadap
Rumput menari gembira karena mendengar irama angin yang memabukkan. Tetesan air yang menghidupkannya bersembunyi dibalik tanah dan tak pernah terpandangi. Biarlah semua ada dalam catatan buku gelap, tinta hitam akan menyamarkan mata yang melihat, saat matahari membakar segala apa yang ada pada jasad, aku dengan hati ku menghadap.
tidak akan
Baiklah, aku telah menyerah pada dinding yang kau pancangkan dihadapan mata ku, akan terus aku pandangi langit agar menurunkan bunga-bunga pada mu, bukan aku menentang dan menghina pada langit tentang kuasanya, hanya karena aku tak mau lagi menghimpit permintaan jiwa yang terhanyut pada angin yang berhembus tanpa mampu aku belokkan. akan aku bersihkan kembali bayangan batu itu sebagai tempat bertapa. aku meminta kepada cahaya mu wahai surya, kirimkanlah pada ku burung yang bersiul ceria di pagi hari, dan gonggongan anjing dimalam hari. Perdengarkan pada ku tentang keramaian pesta dibawah atap-atap bisu, bagaimana kupu-kupu mati menguncupkan sayapnya, begitu pula jika bumi ini aku najiskan dengan tipu daya, aku akan ada dihadapan mu untuk apa?.
jalan
Persengketaan, keterasingan, kesunyian jiwa, kegersangan batin, dan ketak-bermaknaan diri merupakan luka-luka yang pernah manusia rasai. Semua berbicara tentang bahagia, semua membuat syarat-syarat bahagia, mereka mencari, entah bertemu pada ujung atau tidak, dan biarkan saja jika aku mati dalam perjalanan ini, aku pamit pada Tuhan, jika aku akan datang pada dirinya sendiri, tersenyumlah!.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...