Thursday, October 31, 2019

rasanya beberapa hari off nulis dulu...

Masih sibuk dengan perkara-perkara hahahahahahahahahhahaahhahahaha
Lebih baik memang diam dulu...

Monday, October 28, 2019

akan besok

Besok, akan, besok akan, besok akan, dan seterusnya... biarlah, besok menjadi harapan dan akan, akan terus menjadi niat yang baik. Itu adalah bagian dari nyala kehidupan.

babi

Penaku bukan lagi dari tinta, tapi dari sentuhan jari pada layar smartphone. Tawa ku bukan lagi dengan bibir terbuka, namun dengan simbol emoticon.
Satu-dua jeratan yang melilit di jiwa, ku terima dengan pengertian. Ku tahu bahwa kehidupan masih ada, Waktu di depan ku pandang dengan keberanian. 
Kehangatan sang cahaya tak pernah mati setelah terganti oleh malam, dan ketenangan malam tak pernah egois menyingkirkan siang.
Hari berganti hari, dengan cepat seekor burung yang bebas terperangkap dalam sebutir peluru. Tubuhnya tak pernah terpenjara, namun jiwanya mulai menguap karena panas darah mendidih berjatuhan pada karpet langit. Mencari air dengan mengendap-endap, layaknya manusia yang menjadi babi, namun binatang yang bermata tajam, hanya akan mencari dan mati.

Saturday, October 26, 2019

sumber mata air cinta

Aku sekarang sedang berjalan-jalan menempuhi kalimat demi kalimat, menelusuri jejak-jejak rahasia Sang Pencipta dari tulisan. Jika diri ini hidup karena sentuhan Sang Kuasa, maka aku ini bagian dari Yang Esa. Ku langkahkan pikiran dan hati ku, agar aku mengerti. Ku langkahkan telapak kaki ku agar aku melihat. Tubuh dan jiwa bersatu, tubuh adalah kendaraan, sedangkan jiwa adalah pengemudi. Aku berjalan-jalan dengan segala macam harapan, aku ingin menemukan sumber mata air cinta, aku kehausan, aku ingin mendapat secangkir arti dari diri ku untuk mu wahai Tuhan, guyurkan cinta kasih mu pada ku, agar tanaman yang ku jaga ini bercahaya segar.

Friday, October 18, 2019

Hiduplah kembali

Sudah dan masih juga debu ini diterpa angin yang tak mengenal arah, kesana-kemari berputar melingkari masa demi masa, terbanting di atas tanah, terlempar keras pada dinding, dan melayang-layang terhempas ke tempat yang asing. Debu yang tak pernah dilahirkan hanya mengaku sebagai serpihan batu, anak manusia yang tak mengerti cinta hanya akan mengenal Tuhan dengan jari-jemarinya. Betapapun kering korantangnya diri mu wahai debu, meskipun tak ada air yang tersimpan, walau rintikan hujan hanya akan menyapa mu dan akan jatuh pada hati bumi, tegarlah!, atau anggaplah saja engkau adalah burung yang percikan darahnya pernah menyentuh mu, ingatlah..., tak apa saat ini memang malam dan gelap, besok pagi tegaklah kembali, carilah senyuman meski hanya dari tarian seekor ulat. Oh debu... Kuatlah saat hembusan nafas menyingkirkan mu, bertahanlah  saat diri mu terusir dan terbuang. Lihatlah..!, banyak mata telah buta, namun pikiran banyak menduga dan mulut sangat fasih berbicara, pahamilah... Ohh debu..., namun ketiadaan apapun dari diri mu tak selalu lebih murni dari mereka, semua itu bukanlah kemenangan mu, hanya harapan pada pandangan mu agar tercerahkan kembali, tenanglah... hiduplah kembali esok, atau lebih-lebih nanti, jika sekarang mati, hiduplah kembali, mati, hiduplah kembali!.

Thursday, October 17, 2019

Layang

Jika tubuh telah terkekang, biarlah jiwa yang melayang-layang.

Pohon

Ku pejamkan mata ku, ku lemparkan pikiran pada khayalan, terciptalah pohon indah ku. Sekarang aku dibawahnya, aku bersandar pada dahannya, akar-akarnya selembut selimut, ranting dan daunnya berombak indah tertiup angin, dan aku merasa sangat teduh, tak ada panas tak ada dingin, aku merasa sangat nyaman, bersama para sahabat yang penuh kedamaian, kucing, burung, monyet, kupu-kupu, lebah, ular, sapi, dan kuda. Aku berteman dengan mereka dan aku mendapatkan cerita yang sangat aku nikmati, air ada dihadapan ku berupa sungai kecil yang jernih dan segar, ini adalah kerangka surga, dan aku akan menyempurnakannya dengan apa yang akan diberikan Tuhan pada ku. Layakkah aku menyebut nama mu Tuhan?, saat apa yang ku sampaikan pada mu hanyalah kebutuhan demi kebutuhan?.

Saturday, October 12, 2019

Esok

Besok aku akan mencoba melangkahkan kaki ku, dengan keberanian dan pasrah pada ketidak-tahuan, menuju pada dunia yang baru. Saat ini aku mencari cara, untuk bagaimana menyangga tulang-tulang ku yang retak, menjahit daging-daging ku yang tersobek, dan mengisi gas jiwa ku yang sebagian murninya telah menguap. Aku tak pernah tahu bagaimana pada akhirnya, di sini terasa panas gersang dan banyak perang, oleh sebab itu waktu yang ada depan menjadi sasaran kepergian ku. Disini aku telah banyak menunggu, tapi kelemahan ku menghalangi segala rencana. Keraguan untuk hilang, karena terkadang sebagian Ketakutan menghalangi ku dari bencana, dan keberanian mengantarkan ku pada masalah. Hendak kemana tak begitu penting, yang terpenting kaki ku menapaki jalan, dan rasa kantuk ku biarlah menjadi alasan dimana pun bumi dapat menjadi ranjang ku. Banyak orang bertanya, mencari jawaban, satu kesamaan dari semua manusia, tentang persoalan kehidupan, namun tak banyak yang berani bertanya pada mereka yang mengaku menyampaikan perkataan Tuhan, dan mereka pun tak pernah sampai detik ini mampu memberi jawaban yang memuaskan.

Thursday, October 10, 2019

Cerca

Banyak orang mencerca dengan berkata "Pikiran dan perasaan ku terasa sulit untuk memaklumi tindakan brutal para ekstrimis dengan dalih agama!", padahal mereka para mulut lintah apakah pernah untuk kebaikan diri maupun bersama meskipun hanya berdoa dengan sangat gigih?, apalagi sampai bertindak hingga mengatarkan diri di ujung siksa hukum seperti para teroris?. Semua orang harus melakukan refleksi diri, karena menjadi penonton hanya akan mampu bersorak-sorai, dan pemain selalu beresiko untuk dipuji dan dihina. Tidak ada pembenaran bagi pelaku keburukan, namun cara pandang diri pribadi harus pula dipertajam. Kebenaran adalah persoalan yang harus disimpan dan dikelola dengan baik, seseorang berkata "kebenaran itu berada di dapur!, kebaikan adalah hal yang terutama harus disuguhkan!". Semua orang dapat menerima kebaikan, tapi belum tentu kebenaran. Semua orang dapat menikmati hidangan yang lezat, namun belum tentu semua orang mampu memasak. Bukankah berbeda orang yang tahu dengan yang tidak tahu?, kitab mengingatkan. Jika terkesan orang yang mengaku menjalankan perintah Tuhan mati perasaannya dan karatan pikirannya, apakah probabilitas alasan karena terlalu sibuk dan lelah dengan aktivitas bisnis pahala terhadap Tuhan dapat dipertimbangkan?, sehingga pengasahan pikiran dan perasaan tidak menjadi jumud dan kemudian tumpul?, atau apakah karena Tuhan yang mereka pahami berdasarkan pengalaman adalah Tuhan yang maha Sangar?. Kita familiar dengan pernyataan bahwa seseorang memperoleh kebenaran dan seseorang yang lain berbuat baik. Hal tersebut tentu mengindikasikan bahwa dua hal tersebut memiliki wilayah dominannya masing masing. Mengingat kata-kata "Sebelum beragama seharusnya hewan berwujud manusia memiliki "kemanusiaan", sehinga setelah beragama, agama tidak menjadi korban dari dirinya. Agar tidak terjadi bahwa agama yang saharusnya suci dan indah menebarkan kedamaian, malah terasa culas kotor menebarkan pertentangan dan teror. Bukankah wahyu turun untuk seluruh manusia?, lalu mengapa seseorang menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi?, Tuhan pribadi?, surga pribadi?. Bagaimana seseorang mengaku cinta pada Tuhan, padahal yang dipikiran hanyalah bayangan surga?. Mata Qais dipenuhi laila, bukan rumahnya. Untuk ukuran kebaikan dan perbaikan, pemakluman dalam arti pengusahaan, pembenaran terhadap hal yang tidak benar menjadi kadang perlu.

Tuesday, October 8, 2019

Apalagi

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Siapakah

Siapakah diantara diri mu wahai manusia, yang akan ridho dan ikhlas saat kau dilempar ke neraka oleh Tuhan?.
Siapakah diantara diri mu wahai manusia, yang sanggup berbagi neraka dengan sesama atau dengan orang yang kau cinta?. Tahukah kau seperti apa rasa neraka?. Sanggupkah kau berbagi mata saat orang yang kau kasihi buta?. Sanggupkah kau berbagi kaki saat kaki orang terkasih mu putus?.

Rata

Tentang persoalan pemikiran, bukan persoalan sosial. Kehidupan berawal dari pencipta, manusia dahulu telah mencari siapa, bagaimana, untuk apa, dan lain sebagainya tentang keberadaannya yang ada. Manusia banyak berkata tentang "manfaat", mereka berkata itulah yang terpenting, "manfaat" itu, bukankah sesuatu yang melegakan, yang memenuhi kepentingan "dapat dimanfaatkan"?. Lalu apa bedanya mengejar "Tuhan" atau mengejar "benda"?. Bukankah semua timbul dari yang namanya kehendak untuk "mengambil manfaat?". Aku bertanya bukan karena aku menggurui, tapi aku bertanya untuk diri ku sendiri agar jalan yang ku tempuh terhaluskan oleh kebijaksanaan.

Monday, October 7, 2019

Lihat

Aku melihat dengan mata ku, ada banyak warna-warni dunia. Aku begitu terkesan melihat induk ayam dengan itik-itiknya, kucing dengan anak-anaknya, mereka seperti benar-benar memiliki cinta kasih. Sungguh aku yakin bahwa hewan benar-benar memiliki kasih sayang. Aku juga sangat terkesan saat memperhatikan mata-mata binatang, aku ingin bertanya adakah tanda bahagia atau kesedihan yang tersimpan. Namun aku tidak tahu, bagaimana pun aku tak mampu menerka hati binatang, bagaimana aku menuduhnya sedih saat mereka tak pernah menghawatirkan kehidupan di masa datang, tak punya ingatan dimasa silam, bukankah ingatan yang menyebabkan makhluk berpengetahuan?, apakah binatang tak berpengatahuan?, mungkin saja para binatang punya pengetahuan tapi terbatas berdasarkan bawaannya saja. Lalu bagaimana dengan manusia?. Aku memiliki telinga, untuk mencoba menebak, membedakan mana suara yang baik dan mana suara yang jahat. Aku memiliki tubuh untuk merasakan nikmat dan sakit, begitu pula jiwa memiliki bahagia dan derita. Menurut ku, Aku telah mencari di banyak tempat, tapi sangat sedikit untuk ukuran kesungguhan, yaitu tentang makna kehidupan. Disebelah timur berkata bahwa tak perlu mencari titik 0, cukup memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kedisiplinan, serta cinta kasih akan mampu mengantarkan diri pada lingkarannya. Disebelah barat mengajarkan, percaya pada manifestasi berupa anak manusia yang dikorbankan, akan membuka surga. Di sebelah selatan berseru "ikutilah jalan kebajikan, putuskanlah lingkaran yang tak bertepi, maka kebebasan akan tercapai". Sebelah Utara menjelaskan "pahamilah apa yang ku kabarkan, laksanakanlah semampu mu dijalan kebajikan". Semua terkadang dipahami oleh para lemah yang bersandar dipunggung kesombongan. Semua hanya bisa mencela pada matahari saat bumi tak mampu mencahayai diri sendiri.

Thursday, October 3, 2019

Ada masih

Aku masih percaya di dunia ini memang ada orang-orang yang benar-benar mulia, orang yang benar-benar penuh dengan kasih dan tulus, bahkan andaikan tidak ada surga atau neraka, meskipun mereka tidak mempedulikan Tuhan.

Wednesday, October 2, 2019

Tawar-menawar

Orang pasti tidak suka diposisikan atau dibuat susunan sebagai daftar alternatif. Siapapun merasa tersinggung dengan cara demikian. Ini perkara kehidupan, bukan perkara penghidupan. Kalau segalanya dibuat seperti "enyang-enyangan", rasanya kayak apa ya kalau kehidupan isinya cuma "enyang-enyangan" melulu, rasanya seperti tak bermakna, hampa kayaknya.

Tuesday, October 1, 2019

Berantai

Pukulan yang melukai tubuh seseorang, bisa jadi sama sekali tidak dirasakan oleh orang tersebut. Karena lebam dan sakitnya telah ditanggung oleh orang lain. Persoalan ketidak-tahuannya adalah bahwa mata manusia satu pada lainnya masih dihalangi oleh sebaran debu.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...