Aku ingin membangun dinding tinggi di daerah perbatasan hati, memelihara pepohonannya dan menggelar karpet pembaringan dengan lapang. Aku ingin mencukupkan diri dari perburuan yang melelahkan, berlarian berebut sekepal daging yang akan membusuk sebenarnya tidak harus terlalu dalam. Tetapi aku telah tertipu oleh kata kemenangan dan kekalahan, dua kata yang seakan berarti kemuliaan dan kehinaan, aku terpeluk setan yang menyeretku ke medan pertempuran, peperangan dan persaingan antar bajingan.
Dunia telah dihuni banyak manusia, sebagian hidup dengan kemegahan, sebagian dengan kekurangan. Sebagian dengan sikap kebanggaan, sebagian dengan rasa rendah diri. Tetapi, sehebat-hebatnya manusia, tiada yang mampu melawan tua dan kematian, kulit keriput, tulang lapuk, dan mati membusuk. Lalu, apakah sikap rakus jiwamu itu?, kau hendak menjaga selamanya sesuatu yang walaupun diletakkan dipenjara lapis tujuh, ia akan pudar dan terbebaskan, ia akan terurai dan menguap, menghilang dari genggaman pengamananmu, bahkan sebelum detik berganti, mungkin saja kau telah tiada sebelum bicara.
Cinta, cinta, cinta, apakah itu?, buruk benar caramu saat menyela dan mencela syairku. Rangkaian kata-kata yang ku susun tidak lebih berarti dari suara kentutmu. Ketahuilah, terkadang kekecewaan dan kebencianlah yang telah menutup kebenaran dan menghalangi keadilan. Seperti keindahan nyanyian musuh telah mengganggu lelap tidurmu bagaikan lolongan anjing di telingamu. Tetapi ini dariku, penghuni sunyi yang tidak mengenal kisahmu.
No comments:
Post a Comment