Kepada bulan yang tertutup awan, ingatlah, jika semua berakhir, maka kembalinya tidak kepada siapapun, melainkan hanya kepada penciptanya, Tuhan. Walau deras hujan telah menghidupkan kematian itu, apa yang terjadi hanyalah percikan analogi keyakinanmu kepada yang tak terlihat. Ketinggian angkasa sudah cukup dapat dirasakan saat kau berada di bukit cinta, walaupun hal kecil memang tidak akan pernah menjadi bandingan, setidaknya dengan itu manusia telah mendekati "rasa" kebenaran.
Aku telah membawa diri ku ini menuju apa yang sekedar bisa aku lakukan, saat ini seperti ini, termasuk tentang langkah yang tak mampu aku keraskan, mungkin bukan pengertian kelemahan, tetapi bisa jadi memahami kesadaran. Aku tidak tahu benar atau salah mengenai semuanya, yang jelas tujuanku adalah hendak menemui mu, memperteguh keyakinan untuk meletakkan tangan ku.
Lemah, memang kecil suaraku, seperti pandanganku saat melihat mu, betapa bunga Tuhan terkandung dalam wajahmu. Hatiku telah berkata, tetapi terkadang Tuhan seakan bercanda. Biarlah begini dan akan begitu, tetap atau berubah, semua akan berlangsung dan waktu akan menasehatiku.
Bulan, rasakanlah butir napas yang terbang itu seperti hantu, jiwa ku yang menderita rindu melayang mengetuk pintumu. Bulan, walau langit yang jauh itu telah melenyapkan pandanganmu, sadarlah pada ku yang selalu berada di bumi, mengharap sinarmu selalu benderang, terang.
No comments:
Post a Comment