Wednesday, June 23, 2021
Mengingat Tempat Kembali
Apakah visi mu, kemana arah hidup kau layarkan, apakah tujuan telah terlepas dan kau tergeletak kesakitan karena tersesat oleh racun-racun disamping jalan itu?. Sadarlah, temukan kembali hidup yang baik, seperti janji dan keyakinan yang kau ucapkan pada awal waktu, sebelum kelahiran mu.
Pengais Angin
Aku ingin membangun dinding tinggi di daerah perbatasan hati, memelihara pepohonannya dan menggelar karpet pembaringan dengan lapang. Aku ingin mencukupkan diri dari perburuan yang melelahkan, berlarian berebut sekepal daging yang akan membusuk sebenarnya tidak harus terlalu dalam. Tetapi aku telah tertipu oleh kata kemenangan dan kekalahan, dua kata yang seakan berarti kemuliaan dan kehinaan, aku terpeluk setan yang menyeretku ke medan pertempuran, peperangan dan persaingan antar bajingan.
Dunia telah dihuni banyak manusia, sebagian hidup dengan kemegahan, sebagian dengan kekurangan. Sebagian dengan sikap kebanggaan, sebagian dengan rasa rendah diri. Tetapi, sehebat-hebatnya manusia, tiada yang mampu melawan tua dan kematian, kulit keriput, tulang lapuk, dan mati membusuk. Lalu, apakah sikap rakus jiwamu itu?, kau hendak menjaga selamanya sesuatu yang walaupun diletakkan dipenjara lapis tujuh, ia akan pudar dan terbebaskan, ia akan terurai dan menguap, menghilang dari genggaman pengamananmu, bahkan sebelum detik berganti, mungkin saja kau telah tiada sebelum bicara.
Cinta, cinta, cinta, apakah itu?, buruk benar caramu saat menyela dan mencela syairku. Rangkaian kata-kata yang ku susun tidak lebih berarti dari suara kentutmu. Ketahuilah, terkadang kekecewaan dan kebencianlah yang telah menutup kebenaran dan menghalangi keadilan. Seperti keindahan nyanyian musuh telah mengganggu lelap tidurmu bagaikan lolongan anjing di telingamu. Tetapi ini dariku, penghuni sunyi yang tidak mengenal kisahmu.
Tuesday, June 22, 2021
Berteduh di Atap Harapan
Kepada bulan yang tertutup awan, ingatlah, jika semua berakhir, maka kembalinya tidak kepada siapapun, melainkan hanya kepada penciptanya, Tuhan. Walau deras hujan telah menghidupkan kematian itu, apa yang terjadi hanyalah percikan analogi keyakinanmu kepada yang tak terlihat. Ketinggian angkasa sudah cukup dapat dirasakan saat kau berada di bukit cinta, walaupun hal kecil memang tidak akan pernah menjadi bandingan, setidaknya dengan itu manusia telah mendekati "rasa" kebenaran.
Aku telah membawa diri ku ini menuju apa yang sekedar bisa aku lakukan, saat ini seperti ini, termasuk tentang langkah yang tak mampu aku keraskan, mungkin bukan pengertian kelemahan, tetapi bisa jadi memahami kesadaran. Aku tidak tahu benar atau salah mengenai semuanya, yang jelas tujuanku adalah hendak menemui mu, memperteguh keyakinan untuk meletakkan tangan ku.
Lemah, memang kecil suaraku, seperti pandanganku saat melihat mu, betapa bunga Tuhan terkandung dalam wajahmu. Hatiku telah berkata, tetapi terkadang Tuhan seakan bercanda. Biarlah begini dan akan begitu, tetap atau berubah, semua akan berlangsung dan waktu akan menasehatiku.
Bulan, rasakanlah butir napas yang terbang itu seperti hantu, jiwa ku yang menderita rindu melayang mengetuk pintumu. Bulan, walau langit yang jauh itu telah melenyapkan pandanganmu, sadarlah pada ku yang selalu berada di bumi, mengharap sinarmu selalu benderang, terang.
Tuesday, June 15, 2021
Berkaca dari dalam diri
Saat seekor semut berjalan di wajah mu, dia tidak akan mengerti kecantikan mu, karena tidak mungkin seseorang menilai sesuatu yang lebih besar dibanding dirinya sendiri. Oleh sebab itu, lebih baik mendayagunakan hati nurani dan akal sehat untuk menjamin nilai-nilai kesesuaian keberlakuan. Bertanya memang boleh, namun mengikuti dengan buta sama saja mengingkari kemanusiaan.
Friday, June 4, 2021
Doa dan Kejernihan
Ya Tuhan, benarkan tujuan ku, luruskan jalan ku, damaikan perjalanan ku, pertemukan aku dengan keindahan Mu. Aku telah mencoba berusaha sesuai dengan pantulan kemampuan ku, jangan biarkan aku tertipu oleh hal yang sia-sia. Jangan pula aku menipu makhluk yang sama-sama Engkau cipta. Jangan biarkan aku terbebani oleh sekedar hawa nafsu, kuatkan diri ku, agar semua menjadi seolah debu-debu.
Ya Tuhan, terimakasih atas semua cara mu memberi ku cerita di dunia ini. Walaupun jika hanya untuk ku sendiri semua itu harus terbaca, meskipun dengan tawa dan air mata, semua ini berharga. Tuhan, harapan agar engkau curahkan belas kasih mu tetap akan aku kumandangkan.
Ya Tuhan, apakah itu puasa dan apakah itu penjara?. Berikan aku kemurahan mu, agar aku tidak mengecewakan kepercayaan-kepercayaan.
Semoga semua makhluk tambah sejahtera batin dan lahir.
Aamiin
Subscribe to:
Comments (Atom)
Menanti Sebuah Mimpi
Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...
-
"Tangan terasa lemah, pikiran berputar lelah, perasaan berisik gundah, menjalani hidup tanpa arah. Saat segala ucapan bagai pedang, kes...
-
Hi, sahabat Sekolah Tanpa Batas, bingung nyari aplikasi/tautan yang dapat digunakan pada PID / IFP diSekolah? Selain pemanfaatan *Rumah Pen...
-
Seperti perut yang tak pernah kau tahu isinya, nasi dan udara sama-sama dapat membuatnya mengembang. Persis seperti pikiran mu itu, sulut ke...