Telah lama aku tidak menyadari, kelembutan tangan ku saat mengusap air mata. Waktu telah berlalu dan segalanya telah terjadi, menerima atau tidak segalanya telah berubah. Dunia terasa semakin penipu dan licik, mempermainkan perjalanan hidup tanpa pernah aku duga. Dengan semua itu, aku berusaha tidak akan lagi menempatkan dunia di inti hati, semua telah jelas akan pergi. Bahkan yang pertama, mungkin saja aku yang akan mati, sehingga apa yang sudah aku miliki tidak berguna.
Ironi, segala hembusan moral nurani telah dilindas oleh hukum-hukum yang tanpa konteks terpatri suci, kotoran anjing yang seakan benar karena terbungkus stempel cincin malaikat. Para pejalan kaki yang menuju Tuhan telah dihantami batuan pahala dari para pemabuk surga, sisa-sisa remahan rampasan halal telah di taburkannya sebagai petunjuk, keimanan mereka begitu tangguh sehingga menegakkan spanduk kesalahan di kening-kening sesama, slogan-slogan jalan lurus telah menjatuhkan sesama dalam jurang kebencian dan dendam.
Para bajingan telah menyelinap dalam selimut kehangatan Tuhan, atau karena memang aku yang selalu cemburu sehingga membusuk, menebarkan racun-racun kepada angin, karena aku tidak mampu mengenal Mu, sehingga aku banyak menyalahkan Mu, Tuhan. Aku juga mencela hambaMu yang telah memenangkan apa yang aku harapkan. Nyatanya, aku juga begitu egois, berharap keinginan ku yang juga diinginkan orang lain itu, hasilnya akan selalu berpihak pada ku.
Mungkin, aku sebenarnya tidak teraniaya, aku hanya kalah saja. Dalam pertarungan itu, aku layak menderita, sebagai pejuang, aku telah terluka, kepada mimpi, aku telah terjatuh, dan semua itu begitulah adanya. Tuhan menyaksikan, tetapi bukankah begitu?. Tuhan menyaksikan tentang hakekat perselisihan manusia, semua itu hanyalah gurauan dunia semata.
No comments:
Post a Comment