Hendak 25 tahun usia, tetapi apa yang berbeda?. Banyak orang berkata, 25 tahun adalah usia Rasul menikah, tetapi aku menjawab, "Rasul punya kualitas yang cukup untuk menikah di usia itu, apa yang perlu ditiru bukanlah waktu, tetapi ketepatan". Kenyataannya aku menjawab dengan hati yang lesu, lebih dari argumentasi adalah pengakuan kelemahan diri.
Banyak rencana ingin aku coba, tetapi mengapa semua sekedar wacana.
Aku ingin berubah, menuju kepada yang selayaknya. Aku harus menerima segala kesalahan-kesalahan, lebih dari kegagalan adalah tak memiliki harapan. Aku harus berani mengambil keputusan, apakah harus ku tunggu suara Tuhan?.
Banyak waktu terbuang, karena mengharap Tuhan menentukan. Keputusan masih selalu melayang, karena diri tak berani melangkah tanpa hitungan. Pergi atau tinggal, menetap atau berangkat?.
Kesempatan yang ditunggu, untuk meletakkan atau merapikan, untuk istirahat atau bergegas. Banyak hamba menunggu kepastian, jawaban dari doa-doa, pelepasan dari belenggu-belenggu. Tetapi seakan hidup itu memang remang, kebebasan, keputusan, dan bukan selalu pemenuhan keinginan.
No comments:
Post a Comment