Rasanya, tidak ada kata "memiliki", tidak, memang tidak ada "kepemilikan bagi manusia", bahkan manusia terhadap dirinya sendiri. Alasan sederhananya karena tidak ada yang mampu menjaga dirinya sendiri untuk tidak mati, bukankah itu sudah cukup?. Jika manusia mengejar berbagai hal untuk menjadi miliknya, nyatanya adalah semuanya akan berakhir sia-sia, sekali lagi yang sederhana, kematian.
Hukum, seni, bahkan percakapan sehari-hari telah terlalu serius dan terkesan salah kaprah dalam membahas kepemilikan. Tiada sadar mereka telah menyekutukan Tuhan, karena kebenarannya adalah tiada yang bukan kepunyaan Tuhan.
Konsepsi kepemilikan yang telah melewati batas keimanan inilah yang membuat manusia banyak bersedih. Segala sesuatu hendak distatuskan sebagai milik, kemudian saat sesuatu itu rusak dan lenyap, jatuhlah manusia dalam penderitaan.
Kepemilikan telah menjelma sebagai magnet bahagia, mengecoh manusia untuk menyakini bahwa dengan memiliki itulah sumber segalanya. Harta sebagai sumber kesenangan, pasangan hidup sebagai sumber ketentraman, keluarga sebagai sumber keamanan, semua itu terlanjur lekat dianggap sebagai "pemberi". Makhluk sebagai sumber dan kholik tidak diperhitungkan. Mengapa?. Apakah tidak ada ilmu yang dengan "Tuhan memiliki" itu adalah sumber kebahagiaan manusia?.
Adakah manusia yang bahagia dimiliki Tuhan?. Itu saja pertanyaannya.
Sejak kapan makhluk dapat memberi kebahagiaan?, jika untuk menciptakan sehelai rambut tidak mampu. Sejak kapan manusia dapat dijadikan tempat berharap?, jika menjadi tua dan mati tak mampu ditolaknya. Sejak kapan kau terlalu bodoh untuk sadar !.
Lawanlah karat-karat yang selama ini merenggut kebenaran, yang menggelapkan pikiran dan hati mu sehingga banyak kepedihan kau rasakan. Bersihkan lah segalanya!. Kau makhluk Tuhan, menghamba itu adalah kebenaran, tiada status lain dari pencipta selain hamba.