Sunday, March 21, 2021

Kepemilikan

Rasanya, tidak ada kata "memiliki", tidak, memang tidak ada "kepemilikan bagi manusia", bahkan manusia terhadap dirinya sendiri. Alasan sederhananya karena tidak ada yang mampu menjaga dirinya sendiri untuk tidak mati, bukankah itu sudah cukup?. Jika manusia mengejar berbagai hal untuk menjadi miliknya, nyatanya adalah semuanya akan berakhir sia-sia, sekali lagi yang sederhana, kematian.

Hukum, seni, bahkan percakapan sehari-hari telah terlalu serius dan terkesan salah kaprah dalam membahas kepemilikan. Tiada sadar mereka telah menyekutukan Tuhan, karena kebenarannya adalah tiada yang bukan kepunyaan Tuhan. 
Konsepsi kepemilikan yang telah melewati batas keimanan inilah yang membuat manusia banyak bersedih. Segala sesuatu hendak distatuskan sebagai milik, kemudian saat sesuatu itu rusak dan lenyap, jatuhlah manusia dalam penderitaan.

Kepemilikan telah menjelma sebagai magnet bahagia, mengecoh manusia untuk menyakini bahwa dengan memiliki itulah sumber segalanya. Harta sebagai sumber kesenangan, pasangan hidup sebagai sumber ketentraman, keluarga sebagai sumber keamanan, semua itu terlanjur lekat dianggap sebagai "pemberi". Makhluk sebagai sumber dan kholik tidak diperhitungkan. Mengapa?. Apakah tidak ada ilmu yang dengan "Tuhan memiliki" itu adalah sumber kebahagiaan manusia?.

Adakah manusia yang bahagia dimiliki Tuhan?. Itu saja pertanyaannya.

Sejak kapan makhluk dapat memberi kebahagiaan?, jika untuk menciptakan sehelai rambut tidak mampu. Sejak kapan manusia dapat dijadikan tempat berharap?, jika menjadi tua dan mati tak mampu ditolaknya. Sejak kapan kau terlalu bodoh untuk sadar !.

Lawanlah karat-karat yang selama ini merenggut kebenaran, yang menggelapkan pikiran dan hati mu sehingga banyak kepedihan kau rasakan. Bersihkan lah segalanya!. Kau makhluk Tuhan, menghamba itu adalah kebenaran, tiada status lain dari pencipta selain hamba.

Tuesday, March 16, 2021

Kabar

Terkadang, manusia yang mengetahui apa yang akan terjadi, juga tidak mengetahui dengan bagaimana itu akan terjadi. Pada akhirnya, mungkin sebagian takdir memang tidak bisa dihindari walaupun diketahui.

Debu dan Bebatuan

Kata-kata yang kuat dalam meninggikan dan membenamkan adalah air yang mendidih dan membeku.
Jika kata itu telah sampai pada titik normalnya, semua hanyalah air yang bahkan dapat kau kelola semau mu.
Maka tak apa kau dengar dan kau simpan, telingamu akan lebih mampu mendengar dengan bijak dan simpanan mu akan menjadi pasukan dalam menjinakkan segala ancaman dan rayuan.

Maka kesabaran itu adalah kekuatan dan kebencian mu akan menjadi cara mu untuk mendekat.

Terurai

Kemanakah lukisan yang pernah ku simpan dalam lamunan sebelum terlelap, semua seakan menguap karena waktu begitu cepat melahap hal-hal yang selama ini ku harap, tetapi semua menjadi lekat saat air mata kejujuran mengukir kalimat, kebenaran dan kepalsuan telah mengajari ku tentang hakekat.

Saturday, March 13, 2021

1/4 Abad

Hendak 25 tahun usia, tetapi apa yang berbeda?. Banyak orang berkata, 25 tahun adalah usia Rasul menikah, tetapi aku menjawab, "Rasul punya kualitas yang cukup untuk menikah di usia itu, apa yang perlu ditiru bukanlah waktu, tetapi ketepatan". Kenyataannya aku menjawab dengan hati yang lesu, lebih dari argumentasi adalah pengakuan kelemahan diri. 

Banyak rencana ingin aku coba, tetapi mengapa semua sekedar wacana.
Aku ingin berubah, menuju kepada yang selayaknya. Aku harus menerima segala kesalahan-kesalahan, lebih dari kegagalan adalah tak memiliki harapan. Aku harus berani mengambil keputusan, apakah harus ku tunggu suara Tuhan?.

Banyak waktu terbuang, karena mengharap Tuhan menentukan. Keputusan masih selalu melayang, karena diri tak berani melangkah tanpa hitungan. Pergi atau tinggal, menetap atau berangkat?.

Kesempatan yang ditunggu, untuk meletakkan atau merapikan, untuk istirahat atau bergegas. Banyak hamba menunggu kepastian, jawaban dari doa-doa, pelepasan dari belenggu-belenggu. Tetapi seakan hidup itu memang remang, kebebasan, keputusan, dan bukan selalu pemenuhan keinginan.

Saturday, March 6, 2021

Apa yang Terjadi

Niat baik dengan cara yang salah dan niat buruk dengan cara yang benar. Kita tidak memandang hitam putih kehidupan.

Sampingan

Saat musim hujan ini telah selesai, musim kemarau akan menggantikan. Jika mendung yang kau tunggu, kau tahu sumber air sumur di tanah ini tidak pernah kering.

Bagi ku, tidak perlu kau mengerti, jika aku melihat bunga sebagai duri di sarangku, tetapi aku melihat bunga memang indah di tangan mu. Mata ku begitu gelap memandang diri sendiri, tetapi begitu heran menyaksikan mu. Kemunafikan itu begitu lembut menghancurkan jiwa ku, keimanan ku terasa palsu.

Banyak burung telah terbang mengelilingi gunung, tetapi aku akan tetap sabar semampu ku, walau berjalan terseok karena patah sebelah kaki ku, dan memang karena tidak banyak kemampuan ku. Selama hidup tubuh dan jiwa ku masih bergerak, mencoba terus bangkit dan menatap hal baik, itulah hidup ku.
Tetapi aku bukanlah manusia itu, yang mampu berlari mengejar mimpi mu, menyisakan napas untuk memejamkan mata karena cita-cita mu, aku akan hidup bersama orang yang menerima hidup ku.
Aku tidak akan pernah menjadi budak dari seorang yang akan mati dan membiarkan ku sendiri.

Gurauan Penipu (Dunia)

Telah lama aku tidak menyadari, kelembutan tangan ku saat mengusap air mata. Waktu telah berlalu dan segalanya telah terjadi, menerima atau tidak segalanya telah berubah. Dunia terasa semakin penipu dan licik, mempermainkan perjalanan hidup tanpa pernah aku duga. Dengan semua itu, aku berusaha tidak akan lagi menempatkan dunia di inti hati, semua telah jelas akan pergi. Bahkan yang pertama, mungkin saja aku yang akan mati, sehingga apa yang sudah aku miliki tidak berguna.

Ironi, segala hembusan moral nurani telah dilindas oleh hukum-hukum yang tanpa konteks terpatri suci, kotoran anjing yang seakan benar karena terbungkus stempel cincin malaikat. Para pejalan kaki yang menuju Tuhan telah dihantami batuan pahala dari para pemabuk surga, sisa-sisa remahan rampasan halal telah di taburkannya sebagai petunjuk, keimanan mereka begitu tangguh sehingga menegakkan spanduk kesalahan di kening-kening sesama, slogan-slogan jalan lurus telah menjatuhkan sesama dalam jurang kebencian dan dendam. 

Para bajingan telah menyelinap dalam selimut kehangatan Tuhan, atau karena memang aku yang selalu cemburu sehingga membusuk, menebarkan racun-racun kepada angin, karena aku tidak mampu mengenal Mu, sehingga aku banyak menyalahkan Mu, Tuhan. Aku juga mencela hambaMu yang telah memenangkan apa yang aku harapkan. Nyatanya, aku juga begitu egois, berharap keinginan ku yang juga diinginkan orang lain itu, hasilnya akan selalu berpihak pada ku.

Mungkin, aku sebenarnya tidak teraniaya, aku hanya kalah saja. Dalam pertarungan itu, aku layak menderita, sebagai pejuang, aku telah terluka, kepada mimpi, aku telah terjatuh, dan semua itu begitulah adanya. Tuhan menyaksikan, tetapi bukankah begitu?. Tuhan menyaksikan tentang hakekat perselisihan manusia, semua itu hanyalah gurauan dunia semata.

Keburukan yang Baik

*Ketidak-sabaran Vs kebodohan*
Penderitaan membuat orang ingin segera mati bahkan bunuh diri, tetapi kesadaran atas kebodohan terhadap apa yang akan terjadi di masa depan, membuatnya terus hidup sambil mencoba membangun perbaikan.
Jika satu kali engkau pernah meminta mati, apakah tidak akan terulang kedua kali?, mungkin dengan jenis penderitaan yang berbeda?.
Berbicara tentang kebodohan itu sudah tentu, tetapi tentang kesabaran yang belum terjadi?.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...