Saturday, January 14, 2023

Besok dan Kemaren

Aku seakan menjadi cermin bagi wajah-wajah yang terbedaki, tanpa sadar bahwa makna-maknanya adalah diri ku sendiri. Aku menghapus kejernihan dengan debu-debu cemburu, kedalaman yang bisu dan menggebu rayu, mengelabu sinar putih yang berseru-seru.

Aku seakan pisau dapur atau nampan tempat mengiris bawang, yang darinya diperoleh air mata kebahagiaan palsu. Aku telah menambah minyak agar mesin itu leluasa mengayunkan pedang, mata-mata tumpul tak mungkin mempertanyakan.

Kurang keberanian atau kurang kekuatan, tetapi qirah yang kusut memang tak perlu direbut. Mulut yang menyuarakan kedamaian dan hati yang menyimpan kepedihan. Pengorbanan dan keadilan, tetap tabah saat yang lain berubah. Akankah Aku menyerah, aku lelah.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...