Friday, December 29, 2023

Tetesan Kekecewaan

Waktu lalu, tidak sebesar ini harapan ku untuk mendengar kabar gembira, karena aku lelah di penjara dan terus bertambah usia, ternyata sama saja, aku harus lagi menerima kecewa.

Usaha ku terasa tak bermakna dan sia-sia, semua ku lakukan dengan terpaksa, hingga aku perlu begini dan begitu tanpa bahagia, setiap hari aku membuka telinga, berulang kali mengharap angkasa.

Mungkin sampai mati, jika aku terus menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak datang, aku dibunuh oleh harapan.

Kecewa dengan semua yang aku lakukan, hanya bertanya-tanya dengan diri sendiri, aku harus bagaimana dan aku harus bagaimana. Apakah aku salah jalan, apakah aku tersesat sangat jauh, hingga aku tak bisa melihat lagi jalan keluar.

Tapi apakah sekecil ini dunia, sesempit ini kelembuatan semesta ?. Tidak bisakah aku melihat sisi-sisi selain kegelapan, aku mohon pertolongan mu Tuhan.

Sunday, December 17, 2023

Surat Sunyi

Tak terhitung dusta-dusta cinta yang ku persembahkan kepada langit.
Tak terbendung ribuan kecewa yang ku lemparkan kepada nasib.
Tak terbayangkan berapa kali aku mencaci langit yang ku yakini suci.
Lalu, aku mulai terbaring, lelah menciderai diri ku sendiri yang sepi.

Aku ingin berhenti memandang bintang-bintang yang ada digenggaman orang. Biarkan aku memegang bebatuan jika itu sebuah kepantasan. Tetapi hati dan lidah tak pernah lelah meminta, kepada pencipta yang maha kuasa.

Setiap manusia tak suka jika terpaksa, setiap orang berusaha jika ada cinta. Tetapi rasa kedirian terkadang menjadi batu sandungan, menghambat langkah kaki walau ada haluan di hati.

Sedih memang, saat segalanya harus disiapkan, terkadang kesiapan rasanya tak pernah datang, tak ada bedanya menunggu kematian.

Lalu bagaimanakah aku tahu, Tuhan, tentang kemurahan mu.

Friday, November 17, 2023

Tidak Lagi Ada

Ku terima dan ku letakkan segalanya
Api duka dan air tawa yang mengarah
Dibalik suara yang penuh keanggunan
Biarlah rahasia yang menjadi pakaian
Nama mu dan segala bunga yang menawan
Suara pujian yang bersahut-sahutan.
Dan, kapan sesungguhnya kemenangan?.
Berapa kali keharuman bergandengan dengan kepalsuan?.

Lalu, kau melihat dengan cara mu yang seakan berbeda. Sesungguhnya kau tak benar-benar rela. Karena telinga mu belum mendengar, hanya mata mu yang terbuka.
Apakah hati itu tetap satu, terarah kepada kata yang sama?. Atau sudahkah kenyataan tiba, kemudian kau cabut segala percaya.

Jangan lagi kau menutup telinga, karena sebuah mata yang buta, karena engkau hanya membawa cinta yang terisi dusta.

Kau tahu, mendung saat ini mulai menyapa, gerimis dan segala rasa yang dimuatnya, racun dan segala tipu daya. Aku muak dengan itu semua, lagi pula aku telah lenyap, jangan kau datang dengan harapan, datanglah dengan penerimaan.

Apakah mungkin kesuburan datang dari kegersangan, apakah mungkin ketenangan datang dari jiwa yang terbakar. Seakan tersisa setitik kebajikan, seakan aku tak pantas untuk melanjutkan perjalanan.

Biarkan duhai angin malam, aku ingin tidur dengan nyaman, bersama mu kegelapan.

Tuesday, October 17, 2023

Sempit Pandang

Semoga bisa lebih berusaha, waktu telah bergerak mengikat semakin dekat. Semoga aku tidak harus tunduk, walau hujan, dingin, dan petirnya mungkin tiba-tiba akan datang, aku memang  makhluk yang tak tahu diri, suka memandang langit dan mencelanya. Semoga aku termaafkan dan terampuni, semoga jiwa ini tidak lagi semakin hitam saat telah dekat datang waktu perjumpaan.

Saturday, September 9, 2023

Kesadaran Diri

Kesalahan diri sendiri yang kita sadari dan sesali adalah modal besar bagi kita untuk dapat bersabar dan memaafkan kesalahan orang lain.

Monday, August 28, 2023

Asap Jalan

7,1-3.7
Berusaha dan tak ada hasilnya, tetapi sudah berbuat baik dan berada di jalur yang sepantasnya, setidak menjadikan hidup lebih baik atau berarti. 

Thursday, July 27, 2023

Mata Kosong

Aku tak mau lebih hancur dengan memupuk tanah yang tiada benih tertanam di dalamnya, aku tak mau melihat bulan yang darinya aku ingin memetiknya, sudah lama ketidak-abadian itu berubah-ubah tak menetap sifatnya.
Lalu, apa yang membuat ku terseret dalam perangkap rayunya?.

Aku harus melawan segala macam tipu daya, menyiapkan kaki dalam pengembaraan rasa, mencari cahaya yang darinya berbinar kedua mata.

Sunday, May 28, 2023

Ketimpangan dan Perseteruan

Terbakarlah engkau jiwa!, saat engkau melihat ketidak-adilan. Dinding-dinding kebusukan tingkah tanpa malu telah dipertebal dengan kekerdilan para budak yang bisu. Bangkitlah!, engkau adalah kemerdekaan yang berperan. Bukan suatu kesia-siaan yang parah, saat sebuah pesan telah sampai pada mu !, semoga engkau yang akan memantik atau menyuburkan nyala itu.

Mereka lama menutup mata dari kedholiman cara, mereka tidak bodoh tetapi pura-pura tidak mengerti, mereka memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan pribadi. Mereka diam saat yang lain menjadi korban, tak peduli dan bersenang-senang dengan segala keuntungan. Mereka tutup mulut, karena tak mau ada yang direnggut, kenikmatan yang dihasilkan dari keculasan, bagaimana jadi halal padahal sangat menjijikkan, haram, dholim !. Memakan babi tidaklah lebih berdosa dari memakan buah kelicikan.

Siapakah yang peduli dengan keadilan?.
Siapakah yang mau membangun dan menegakkan?.

Sistem adalah sinergisitas item-item yang dipandang satu kesatuan. Jika baik maka satu untuk semua, buruk pun juga satu untuk semua, maka jangan lemah untuk meninggalkan jaringan yang merendahkan !.

Saturday, April 22, 2023

Buta Cinta

Jangan berharap daun itu jatuh di halaman rumah mu, pohon ini lahir dari biji yang dijatuhkan burung terbang, menetap pada liang batu yang terpenuhi bekas lumpur kaki kuda, betapa dangkal akarnya, mengkhawatirkan masa depannya, lalu pohon itu dilayukan oleh hujan asam, jatuh bangun dia bertahan, lalu mengapa engkau mengharapkan?.

Apakah sama yang putih dengan yang hitam, apakah mungkin terang dimunculkan dari malam?. Kau katakan dengan keyakinan. Ketahuilah!, engkau begitu arogan!. Itu bukan cinta, tetapi keserakahan!. Itu bukanlah pengabdian, tetapi kekafiran!. Hargailah manusia karena kemanusiaan!, dan kemudian kau melempar kesedihan tanpa kepedulian, kau begitu jijik melihat darah-darah cinta bercucuran.

Apakah hendak pohon ini menghisap air berlimpah dari danau senyuman mu?, pohon ini akan mati seperti tidak pernah menyentuh keluasan mu. Jangan samakan aku, karena aku bayi yang telah dilahirkan puluhan tahun, tua tetapi seakan pusarnya belum kering terpotong. Jangan membenci ku, karena aku buta dan hanya bisa bersuara, tetapi engkau tuli dan telah menuju surga?. Engkau memang benar-benar tak punya cinta!.

Monday, April 10, 2023

Keraguan

Ku lihat wajah-wajah yang terputus dari cita.
Ku amati hati-hati yang sempit dari mencintai.
Ku pahami rasa-rasa dahaga untuk dicinta.
Ku dengar tawa-tawa yang terikat derita.
Ku menduga usia-usia tua yang masih muda.
Kehidupan yang tiada beda dengan kematian.
Perasaan yang tak mau berdamai dengan pikiran.
Mata-mata terbuka yang tak menerima makna.

Batas Laku

Aku merasa sulit untuk menulis kembali, dunia telah mengkarati kehalusan hati, menjadikan ku binatang yang tanpa belas kasihan.

Harapan telah terjawab dengan kegagalan, dimata manusia, usaha memang tidak selalu berguna. Dunia telah memaksa ku untuk menghabiskan, tetapi darinya aku belum tentu mendapatkan, aku terjatuh, tertinggal di belakang.

Aku harus melihat waktu, aku harus membatasi laku.

Aku tidak mau tertipu, jika memang bagian ku, aku tak perlu meninggalkan maksud sejati hidup ku.

Tuesday, January 31, 2023

Sungai dan Waktu

Aku telah melempar serpihan jiwa ku kepada mulut waktu, aku telah dermawan kepada laku kegelapan. Punggung ku terasa bergetar hanya untuk secuil perjuangan, tetapi aku begitu kekar menantang kehancuran. Walau begitu, Aku telah menelan api ke dalam perut, tetapi malah dari mu keluar asap yang merenggut. Duhai, sangat disayangkan, seharusnya biji dapat tumbuh, cabang-cabangnya adalah kesempatan, banyak bunga akan mekar.
Tetapi nyatanya, aku selalu terbutakan oleh panah-panah yang menawan, tertulikan oleh kemerduan suara-suara kepalsuan. Aku selalu dihantui oleh pandangan setan, dipaksanya aku menuju kelumpuhan.

Ooo,, kekejaman, mengapa kau selalu mengintai, hutang apa yang harus aku lunasi. Aku telah pergi, tetapi kau mengikuti, aku telah menutup mata, tetapi engkau meraba. Apakah tak cukup lumpur neraka itu kau hempaskan pada wajah ku, sehingga aku harus menunduk dari kemurahan mentari, hingga seakan aku tak lagi mengenal kebaikan, seakan aku tak lagi peduli pada kehidupan. Dengan cara apa aku menegakkan muka, mata-mata itu bagai mata pamangsa, tajam, menerkam, seakan menyeretku ke pengadilan Tuhan.

Saturday, January 14, 2023

Besok dan Kemaren

Aku seakan menjadi cermin bagi wajah-wajah yang terbedaki, tanpa sadar bahwa makna-maknanya adalah diri ku sendiri. Aku menghapus kejernihan dengan debu-debu cemburu, kedalaman yang bisu dan menggebu rayu, mengelabu sinar putih yang berseru-seru.

Aku seakan pisau dapur atau nampan tempat mengiris bawang, yang darinya diperoleh air mata kebahagiaan palsu. Aku telah menambah minyak agar mesin itu leluasa mengayunkan pedang, mata-mata tumpul tak mungkin mempertanyakan.

Kurang keberanian atau kurang kekuatan, tetapi qirah yang kusut memang tak perlu direbut. Mulut yang menyuarakan kedamaian dan hati yang menyimpan kepedihan. Pengorbanan dan keadilan, tetap tabah saat yang lain berubah. Akankah Aku menyerah, aku lelah.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...