Hanya melalui aksara, aku mewujudkan rasa, walau hati berberibu warna, mata pada saatnya akan terbatasi masa. Bukan keharuman bunga dan busuknya bangkai, bukan senyuman timbul karena suka, dan bukan keengganan muncul dari benci. Engkau, selalu saja memberi walau sumpah banyak ku ingkari, bukan karena aku berarti, tetapi karena Engkau mencintai, atau memberi waktu sebelum belenggu, atau dan atau apapun itu, keluasan mu telah menjadikan ku debu, bukan sesuatu. Lalu ku balas dengan apa kesabaran dan harapan itu?, apakah aku begitu tidak punya malu?.
Akankah kematian akan menjadi pertemuan paksa?, saat tanda-tanda membuahkan siksa. Mata Mu adalah langit ku, suara Mu adalah detak jantung ku, kematian ku ada dalam genggaman Mu. Tangan Mu ada di atas ubun-ubun ku, memainkan diri ku atas kuasa mu.
Kau telah memberi sebelum saat sesuatu yang hendak aku minta seharusnya apa itu aku minta.
No comments:
Post a Comment