Saturday, April 30, 2022

Kata dan Arti

Bukankah itu cara yang tidak tepat, menabur benih tanpa melihat tempat?.
Setiap biji yang tersentuh air berhak untuk berkecambah, tetapi yang terpapar api akan hangus dalam resah.
Bagaimana keadaan mu duhai pohon yang layu?, apakah akar itu rindu namun tetap berdebu ragu?. 

Hujan akan sering turun pada musimnya, seperti kerumunan rasa yang menyesakkan dada. Batu membutuhkan waktu untuk menjadi tanah, tiang-tiang penyangga disiapkan dari lelah, tetapi tidak selalu malam adalah kegelapan, cahaya tak selalu mampu mengisi celah-celah kekosongan.

Keberuntungan tikus yang rakus adalah saat berhadapan dengan kucing yang  kekenyangan, dan kesialan kucing adalah berhasil menangkap tikus yang sedang keracunan. Saat keyakinan terbalik dalam kenyataan, persepsi permainan dadu adalah pemersatu laku, permainan kehidupan terkadang penuh kekonyolan, ungkapan-ungkapan persangkaan sering menampar kebenaran, keseriusan dalam panggung kelabilan, dianggap konstan.

Selamat jalan para penempuh kelembutan

Monday, April 25, 2022

Persembunyian Kata

Hanya melalui aksara, aku mewujudkan rasa, walau hati berberibu warna, mata pada saatnya akan terbatasi masa. Bukan keharuman bunga dan busuknya bangkai, bukan senyuman timbul karena suka, dan bukan keengganan muncul dari benci. Engkau, selalu saja memberi walau sumpah banyak ku ingkari, bukan karena aku berarti, tetapi karena Engkau mencintai, atau memberi waktu sebelum belenggu, atau dan atau apapun itu, keluasan mu telah menjadikan ku debu, bukan sesuatu. Lalu ku balas dengan apa kesabaran dan harapan itu?, apakah aku begitu tidak punya malu?.
Akankah kematian akan menjadi pertemuan paksa?, saat tanda-tanda membuahkan siksa. Mata Mu adalah langit ku, suara Mu adalah detak jantung ku, kematian ku ada dalam genggaman Mu. Tangan Mu ada di atas ubun-ubun ku, memainkan diri ku atas kuasa mu.

Kau telah memberi sebelum saat sesuatu yang hendak aku minta seharusnya apa itu aku minta.

Thursday, April 21, 2022

Hanya Sendiri

Aku belum mampu mengusir mu, karena aku belum seyakin itu, jika kau hendak membunuh ku, biarlah bumi yang menelan mu, atau takdirku memang terkapar biru. Ketahuilah, hati ini selalu rapat menutupi rahasia, nama mu yang mulia, ku puja dengan doa-doa. Terkadang, duhai bulan, Malam juga terasa semakin mencekam, menyebut mu dalam harapan bukanlah hal yang ringan. Namun, setidaknya biarkan aku mengutarakan perasaan, kepada Tuhan yang menggenggam hujan. Agar Dia di dalam gelap, menyapaku dengan gemuruhnya, menyirami kepala ku yang mulai gila.
Umur semakin Panjang, namun jiwa ini seakan terbawa gelombang, sempoyongan hendak terperosok jurang. Meneguhkan kembali telapak kaki, adalah pekerjaan harian. Sabar dan kelemahan sulit dibedakan, keberanian dan kebodohan juga seperti itu. Memfokuskan mata kepada ruang sempit yang dipenuhi keterbatasan, hanya mengkerdilkan diri dalam kehidupan. Putarlah leher yang lentur dan pemalas itu, hadapkan kepada luasnya lautan, beraneka ragamnya pepohonan di hutan, hewan dan bintang-bintang, jalan dan pegunungan.

Sadarlah dan batasilah dirimu sendiri, sebelum kebebasan yang menjatuhkan.

Wednesday, April 13, 2022

Terlempar

Engkau seakan menjadi hewan buangan, yang terlantar tanpa payung hujan, sendiri kau lewati jalan-jalan, penuh kecemasan seakan buruan, berlangkah pelan dan  khawatir akan jebakan. Sungguh malang, hidup mu terlayang, seakan tercengkeram oleh elang yang terbang.
Himbusan angin tak menyiratkan kabar kedamaian, pasukan-pasukan seakan dikerahkan dalam persembunyian, memata-matai dan menyusun strategi. kau seakan melangkah dalam pasrah, tetapi bukan menyerah, kegoncangan jiwamu yang tersiksa, matahari seakan membuka rahasia kepada musuh yang seharusnya saudara. Tetapi nyatanya kau tidak mati, kau masih hidup dan punya mimpi. Dalam pengasingan ke dalam rimba yang dipenuhi endapan srigala, engkau terus berusaha ada.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...