Monday, January 24, 2022

Mainan terhormat

Belajar bagaimana belajar, perlu menjadi kewajaran perilaku sadar. "Sistem pendunguan masal", seharusnya sudah punah. Melihat puluhan tahun tanpa hasil, seharusnya sudah ada perombakan, kenyataan kekonyolan itu begitu konsisten beranak-pinak, sekedar berganti warna tanpa merubah rasa.
Lalu apa yang kita tunggu?, merasa tidak tahu apa penting dan yang kurang?, merasa bagaikan mainan yang diremot sistem?, atau bagaimana?, Takut kerugian?, takut kehilangan?. 

"Simalakama", siapa yang bisa terlepas dari lingkaran lalu lintas yang dipenuhi keramaian sentuhan ini dan itu. Tangan besi yang terbuka dan menyelarasi, lebih baik dari pada demokrasi yang bobrok. Kepercayaan, selalu menjadi api keberpihakan. Mengamankan diri di balik kekurangan orang adalah politik kuno. Selama nalar berjalan, pengandaian akan muncul sebagaimana kewajaran manusia merefleksikan kehidupan. Memang, hidup tanpa rasa percaya bagaikan hidup di bawah awan yang menyembunyikan bebatuan.

Iya, lebih baik mulut bungkam dari pada menyuarakan kebenaran dan menelan kerugian. Sikap pengecut memang penghalang pergerakan. Tetapi, ketidak-adilan selalu menimbulkan permusuhan. Apakah buta mata, bagaimana ketimpangan yang terjadi di negara akan melahirkan krisis sosial, kriminal?.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...