Monday, January 24, 2022

Absurditas

Karena sejarah sebagai bahan baku kepribadian dan ideologi, masa lalu sebagai batu bata pembangun kedalaman, keluasan dan keunikan, argumen yang berdasarkan pengalaman tidak akan setara dengan hanya melandaskan dokumen. 
Unsur luar dan dalam dari setiap dimensi kehidupan mempotensikan kelebihan, Kewajaran, dan kecacatan. Tetapi yang tidak menghargai diri sendiri bukankah seharusnya pergi ?, jika sekedar melayani maka tak perlu bereaksi, jika menghendaki perubahan diperlukan keberanian. Kehidupan ditandai dengan pergerakan, zaman berkembang dan berganti, namun ini seperti mati. Tanaman yang pahit akan terasa lezat jika dimasak, diberi bumbu yang sesuai. Semua itu pekerjaan manusia. Jika manusia menyadari kekurangan diri, adalah bagaimana dia mengolahnya, menyatukan yang berserakan.
Tetapi benih tak akan tumbuh di bebatuan, selama tempat untuk mengakar tandus, selama mata hanya melihat pagar, telinga hanya mendengar satu suara, tangan hanya merengkuh dada, dan kaki menjadi santapan rantai. Bagaimana mungkin anda berkata setiap manusia punya kesempatan yang sama?. Bukankah tidak?. Seribu suara yang mengabarkan kegembiraan masa depan seakan kepastian, lalu dimana posisi kebanyakan mereka?. Realistis bukan?, absurditas kehidupan.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...