Saturday, January 29, 2022

Prasangka

Ucapan lantang karena ketidak-tahuan seakan lebih benar daripada ucapan halus penuh pertimbangan.
Hidup hanya sekali, semoga selamat saat kembali. Aamiin

Monday, January 24, 2022

Mainan terhormat

Belajar bagaimana belajar, perlu menjadi kewajaran perilaku sadar. "Sistem pendunguan masal", seharusnya sudah punah. Melihat puluhan tahun tanpa hasil, seharusnya sudah ada perombakan, kenyataan kekonyolan itu begitu konsisten beranak-pinak, sekedar berganti warna tanpa merubah rasa.
Lalu apa yang kita tunggu?, merasa tidak tahu apa penting dan yang kurang?, merasa bagaikan mainan yang diremot sistem?, atau bagaimana?, Takut kerugian?, takut kehilangan?. 

"Simalakama", siapa yang bisa terlepas dari lingkaran lalu lintas yang dipenuhi keramaian sentuhan ini dan itu. Tangan besi yang terbuka dan menyelarasi, lebih baik dari pada demokrasi yang bobrok. Kepercayaan, selalu menjadi api keberpihakan. Mengamankan diri di balik kekurangan orang adalah politik kuno. Selama nalar berjalan, pengandaian akan muncul sebagaimana kewajaran manusia merefleksikan kehidupan. Memang, hidup tanpa rasa percaya bagaikan hidup di bawah awan yang menyembunyikan bebatuan.

Iya, lebih baik mulut bungkam dari pada menyuarakan kebenaran dan menelan kerugian. Sikap pengecut memang penghalang pergerakan. Tetapi, ketidak-adilan selalu menimbulkan permusuhan. Apakah buta mata, bagaimana ketimpangan yang terjadi di negara akan melahirkan krisis sosial, kriminal?.

Absurditas

Karena sejarah sebagai bahan baku kepribadian dan ideologi, masa lalu sebagai batu bata pembangun kedalaman, keluasan dan keunikan, argumen yang berdasarkan pengalaman tidak akan setara dengan hanya melandaskan dokumen. 
Unsur luar dan dalam dari setiap dimensi kehidupan mempotensikan kelebihan, Kewajaran, dan kecacatan. Tetapi yang tidak menghargai diri sendiri bukankah seharusnya pergi ?, jika sekedar melayani maka tak perlu bereaksi, jika menghendaki perubahan diperlukan keberanian. Kehidupan ditandai dengan pergerakan, zaman berkembang dan berganti, namun ini seperti mati. Tanaman yang pahit akan terasa lezat jika dimasak, diberi bumbu yang sesuai. Semua itu pekerjaan manusia. Jika manusia menyadari kekurangan diri, adalah bagaimana dia mengolahnya, menyatukan yang berserakan.
Tetapi benih tak akan tumbuh di bebatuan, selama tempat untuk mengakar tandus, selama mata hanya melihat pagar, telinga hanya mendengar satu suara, tangan hanya merengkuh dada, dan kaki menjadi santapan rantai. Bagaimana mungkin anda berkata setiap manusia punya kesempatan yang sama?. Bukankah tidak?. Seribu suara yang mengabarkan kegembiraan masa depan seakan kepastian, lalu dimana posisi kebanyakan mereka?. Realistis bukan?, absurditas kehidupan.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...