Bintang memang sangat cantik, namun siapakah yang dapat meraihnya?. Berbeda dengan keindahan bunga di taman kota itu, siapapun yang beruntung dapat memetiknya. Begitu juga menawannya seorang anak manusia, ribuan mata yang tersihir, telah menyiapkan berbagai hadiah yang tidak selalu dapat diterima.
Api telah menyala dalam hati Qays dan Layla, api itu saling
menerangi satu sama lain. Apakah yang mereka lakukan untuk
memadamkan nyala api itu ketika mereka tidak dapat bersatu?.
Tidak, mereka tidak memadamkan nyala api tersebut. Seperti pepatah, tiada yang ingin disembuhkan dari penderitaan karena cinta.
Memang, hanyalah manusia yang mampu merasakan kepedihan karena
memiliki sesuatu yang tak dibutuhkannya, namun mendambakan
sesuatu yang tak mampu dimilikinya. Walaupun cacian penghuni dunia yang diluncurkan seperti mencabik-cabik jiwa, namun kesedihan
semacam itu tidak sehebat penderitaan karena berpisah dengan layla. Itulah kisah Qays yang terhormat menjadi hina dengan menjadi gila karena cinta, majnun adalah gelarnya yang pada akhirnya membuat malu manusia yang mengaku berakal.
Baginya,
Layla adalah cahaya yang menyinari dunia, karena cahaya itu tiada lagi dari pandangannya, maka ia merasa hidup dalam kegelapan, ibarat seseorang yang buta. Seorang pria yang tercengkeram habis oleh cinta takkan
gentar menghadapi kematian. Seorang pria yang mencari kekasihnya
takkan takut menghadapi dunia dan juga perangkapnya. Keledai yang sekarat takkan menurunkan muatannya hingga kematian benar-benar merenggutnya, jika Qays memang bukan lagi manusia, lalu mengapa ia harus takut pada kematian?
Saat suara akal berkata, "Mengapa kau berikan hatimu kepada mawar yang mekar tanpa
kehadiranmu Qays, sementara kau masih tetap berkubang dalam debu?.". Kalimat itu bagaikan kilatan saat hujan di siang hari. Sekejab dan menghilang tertelan nyata terang, cinta terus menariknya untuk mengeluarkan napas kerinduan.
Berbeda dengan Qays yang menderita dalam kemerdekaannya di gurun bersama binatang-binatang, Layla menyembunyikan nyala api itu dan
tak membiarkannya mengeluarkan asap. Api yang sama itu disembunyikan dalam mulutnya yang manis, terlindung oleh senyumannya yang lembut. Kekuatan kecantikan layla seperti berbakat menyembunyikan kepura-puraan.
Nowfal, seorang pangeran sahabat Qays yang di kemudian hari rela berperang untuk menyerahkan Layla pernah berkata, "Temanku, engkau bagaikan ngengat
yang berterbangan di malam hari, berharap menemukan cahaya lilin, tapi
janganlah kau menjadi lilin itu, yang mengeluarkan air mata hangat sementara tubuhnya habis dimakan kesedihan. Seberapa pun indahnya sang rembulan, tetap saja ia tak
dapat dimiliki oleh siapapun yang jatuh cinta kepadanya. Jika dia takdir mu, akulah yang merobohkan dinding penghalang mu!.
Seseorang yang pemurah dan dapat dipercaya, jika ia merasa selalu dapat memenangkan apa yang dia harapkan, itulah Nowfal. Namun, pelajaran dari seorang yang ingin diselamatkannya ini, ternyata lebih menyelamatkan diri Nowfal sendiri.
Majnun kembali pergi ke gurun, setelah ia berdoa kemenangan bagi musuhnya. Ia kembali menghilang dari muka bumi. Seolah namanya
telah dihapus dari buku kehidupan.
Pada suatu hari, seorang tua bertanya tentang siapa dirinya kepada Layla, kemudian Layla menjawab, "Saya dulu adalah Layla, tapi kini saya bukanlah Layla lagi.
Kini saya sudah gila, lebih ‘majnun’ dari seribu Majnun. Ia mungkin seorang
penganut agama yang gila, pengelana liar yang tersiksa karena cinta,
tapi percayalah, penderitaan saya seribu kali lebih buruk!. Memang benar, ia adalah sasaran bagi panah-panah kesedihan,
tapi begitupun saya.
Dia adalah pria, sementara saya wanita!. Ia bebas dan dapat mencurahkan kepedihannya kepada
pegunungan, ia dapat bepergian ke manapun ia mau, ia bisa menangis,
berteriak dan mengekspresikan perasaan terdalamnya dalam sajak-sajaknya. Tapi apa yang bisa saya lakukan?. Saya bagaikan ratu dimata manusia, tetapi sebenarnya seorang tawanan yang
tak mampu berbuat apa-apa. Di lingkungan yang penuh pujian dan penghormatan ini aku tetap tertutup bagaikan kuncup
bunga yang mempesonakan namun takkan pernah mekar.".
"“Kaulah yang mampu mengobati diriku, tapi pada saat yang bersamaan, kaulah sumber penyakitku!. Kau adalah anggur di dalam cangkirku
yang sebenarnya bukan milikku; kau adalah mahkota yang dibuat untukku,
tapi justru berada di kening orang lain. Benar, kau adalah hartaku, namun
kau berada di tangan sosok asing.
Aku terluka oleh ular yang menjagamu.".
"Pohon kehidupanku tumbuh di hutan
jiwamu dan menjadi milikmu. Jika kau jatuhkan pohon itu maka sebagian
dari dirimu akan jatuh dan mati."
Itulah yang tertera dalam surat yang penuh kerinduan, kecemburuan, dan keyakinan Qays kepada Layla.
Banyak manusia mengajari mereka, bahwa jiwa mereka bagaikan
burung yang harus dibebaskan dari sangkarnya. Tapi tidakkah mereka lihat
bahwa sangkar ini sesungguhnya adalah cinta.
Selama seribu tahun, dibandingkan
dengan keabadian yang tak berbatas, maka kehidupan itu akan sama saja
dengan satu kedipan mata.
Suara salah seorang di zaman ini tertawa dan berteriak, Qays dan Laila!, Romea dan Juliet!, dan siapapun nama-nama pemabuk cinta itu!. Andaikan takdir kalian bersatu di dunia ini, mungkin saja kalian akan dipisahkan oleh diri-diri kalian sendiri, puisi indah berubah cacian hinaan, kelembutan kata berangsur kaku dan kasar, cinta kalian akan menjadi cerita kosong masa-masa muda. Kisah kalian menjadi sejarah yang diabadikan hanya untuk mengingatkan, rahasia cinta tidak selalu berada dalam penyatuan. Aku ingin mendengar kisah bahagia sepasang kekasih yang terus saling mencinta, seperti waktu muda meskipun sudah tua.