Tuesday, April 13, 2021

Pergantian Cerita

Banyak mawar akan gugur dan membusuk, banyak pula benih mawar yang hendak menyempurnakan diri. Sebanyak apapun yang ada digenggaman, manusia tidak akan mampu memenuhi kepuasan. Dunia dipenuhi ancaman dan rayuan, terang dan kegelapan terus saja bergantian. Suara dari timur telah jelas menabuh genderang, pasukan lemah dan benteng rapuh telah dipertontonkan, perjuangan macam apa bila tidak disiapkan, mata tidak mengintai dan telinga tersumbat nyanyian musuh, bagaimana kau menyambut kawan dengan senyuman.

Hidup hanyalah hitungan butiran debu, hendak menebarkan apa diri mu untuk mengelabuhi musuh. Angan-angan mu terlalu panjang, pedang musuh sudah dekat tenggorokan. Ajaib, panah anak buah mu melesat dan menyelamatkan mu, siapa menyangka kau harus berhutang nyawa, kau telah diberi kesemparan kedua, kesombongan yang membuat mu lalai telah menjadikan mu tak lagi sepenuhnya kuasa.
Tetapi, inilah raja yang sesungguhnya, bersikap waspada dan mengabil keputusan bijaksana. Mungkin lebih banyak hal yang harus dipenuhi, tetapi dengan pelajaran ini kekuatan mu telah meningkat.

Monday, April 12, 2021

Qays dan Laila

Bintang memang sangat cantik, namun siapakah yang dapat meraihnya?. Berbeda dengan keindahan bunga di taman kota itu, siapapun yang beruntung dapat memetiknya. Begitu juga menawannya seorang anak manusia, ribuan mata yang tersihir, telah menyiapkan berbagai hadiah yang tidak selalu dapat diterima.

Api telah menyala dalam hati Qays dan Layla, api itu saling
menerangi satu sama lain. Apakah yang mereka lakukan untuk
memadamkan nyala api itu ketika mereka tidak dapat bersatu?.
Tidak, mereka tidak memadamkan nyala api tersebut. Seperti pepatah, tiada yang ingin disembuhkan dari penderitaan karena cinta.

Memang, hanyalah manusia yang mampu merasakan kepedihan karena
memiliki sesuatu yang tak dibutuhkannya, namun mendambakan
sesuatu yang tak mampu dimilikinya. Walaupun cacian penghuni dunia yang diluncurkan seperti mencabik-cabik jiwa, namun kesedihan
semacam itu tidak sehebat penderitaan karena berpisah dengan layla. Itulah kisah Qays yang terhormat menjadi hina dengan menjadi gila karena cinta, majnun adalah gelarnya yang pada akhirnya membuat malu manusia yang mengaku berakal.

Baginya,
Layla adalah cahaya yang menyinari dunia, karena cahaya itu tiada lagi dari pandangannya, maka ia merasa hidup dalam kegelapan, ibarat seseorang yang buta. Seorang pria yang tercengkeram habis oleh cinta takkan
gentar menghadapi kematian. Seorang pria yang mencari kekasihnya
takkan takut menghadapi dunia dan juga perangkapnya. Keledai yang sekarat takkan menurunkan muatannya hingga kematian benar-benar merenggutnya, jika Qays memang bukan lagi manusia, lalu mengapa ia harus takut pada kematian? 

Saat suara akal berkata, "Mengapa kau berikan hatimu kepada mawar yang mekar tanpa
kehadiranmu Qays, sementara kau masih tetap berkubang dalam debu?.". Kalimat itu bagaikan kilatan saat hujan di siang hari. Sekejab dan menghilang tertelan nyata terang, cinta terus menariknya untuk mengeluarkan napas kerinduan.

Berbeda dengan Qays yang menderita dalam kemerdekaannya di gurun bersama binatang-binatang, Layla menyembunyikan nyala api itu dan
tak membiarkannya mengeluarkan asap. Api yang sama itu disembunyikan dalam mulutnya yang manis, terlindung oleh senyumannya yang lembut. Kekuatan kecantikan layla seperti berbakat menyembunyikan kepura-puraan.

Nowfal, seorang pangeran sahabat Qays yang di kemudian hari rela berperang untuk menyerahkan Layla pernah berkata, "Temanku, engkau bagaikan ngengat
yang berterbangan di malam hari, berharap menemukan cahaya lilin, tapi
janganlah kau menjadi lilin itu, yang mengeluarkan air mata hangat sementara tubuhnya habis dimakan kesedihan. Seberapa pun indahnya sang rembulan, tetap saja ia tak
dapat dimiliki oleh siapapun yang jatuh cinta kepadanya. Jika dia takdir mu, akulah yang merobohkan dinding penghalang mu!.

Seseorang yang pemurah dan dapat dipercaya, jika ia merasa selalu dapat memenangkan apa yang dia harapkan, itulah Nowfal. Namun, pelajaran dari seorang yang ingin diselamatkannya ini, ternyata lebih menyelamatkan diri Nowfal sendiri.

Majnun kembali pergi ke gurun, setelah ia berdoa kemenangan bagi musuhnya. Ia kembali menghilang dari muka bumi. Seolah namanya
telah dihapus dari buku kehidupan.

Pada suatu hari, seorang tua bertanya tentang siapa dirinya kepada Layla, kemudian Layla menjawab, "Saya dulu adalah Layla, tapi kini saya bukanlah Layla lagi.
Kini saya sudah gila, lebih ‘majnun’ dari seribu Majnun. Ia mungkin seorang
penganut agama yang gila, pengelana liar yang tersiksa karena cinta,
tapi percayalah, penderitaan saya seribu kali lebih buruk!. Memang benar, ia adalah sasaran bagi panah-panah kesedihan,
tapi begitupun saya. 
Dia adalah pria, sementara saya wanita!. Ia bebas dan dapat mencurahkan kepedihannya kepada
pegunungan, ia dapat bepergian ke manapun ia mau, ia bisa menangis,
berteriak dan mengekspresikan perasaan terdalamnya dalam sajak-sajaknya. Tapi apa yang bisa saya lakukan?. Saya bagaikan ratu dimata manusia, tetapi sebenarnya seorang tawanan yang
tak mampu berbuat apa-apa. Di lingkungan yang penuh pujian dan penghormatan ini aku tetap tertutup bagaikan kuncup
bunga yang mempesonakan namun takkan pernah mekar.".

"“Kaulah yang mampu mengobati diriku, tapi pada saat yang bersamaan, kaulah sumber penyakitku!. Kau adalah anggur di dalam cangkirku
yang sebenarnya bukan milikku; kau adalah mahkota yang dibuat untukku,
tapi justru berada di kening orang lain. Benar, kau adalah hartaku, namun
kau berada di tangan sosok asing. 
Aku terluka oleh ular yang menjagamu.".
"Pohon kehidupanku tumbuh di hutan
jiwamu dan menjadi milikmu. Jika kau jatuhkan pohon itu maka sebagian
dari dirimu akan jatuh dan mati."
Itulah yang tertera dalam surat yang penuh kerinduan, kecemburuan, dan keyakinan Qays kepada Layla.

Banyak manusia mengajari mereka, bahwa jiwa mereka bagaikan
burung yang harus dibebaskan dari sangkarnya. Tapi tidakkah mereka lihat
bahwa sangkar ini sesungguhnya adalah cinta.

Selama seribu tahun, dibandingkan
dengan keabadian yang tak berbatas, maka kehidupan itu akan sama saja
dengan satu kedipan mata.

Suara salah seorang di zaman ini tertawa dan berteriak, Qays dan Laila!, Romea dan Juliet!, dan siapapun nama-nama pemabuk cinta itu!. Andaikan takdir kalian bersatu di dunia ini, mungkin saja kalian akan dipisahkan oleh diri-diri kalian sendiri, puisi indah berubah cacian hinaan, kelembutan kata berangsur kaku dan kasar, cinta kalian akan menjadi cerita kosong masa-masa muda. Kisah kalian menjadi sejarah yang diabadikan hanya untuk mengingatkan, rahasia cinta tidak selalu berada dalam penyatuan. Aku ingin mendengar kisah bahagia sepasang kekasih yang terus saling mencinta, seperti waktu muda meskipun sudah tua.

Sunday, April 11, 2021

Bayangan Surga

Bayangan surga bagi mu adalah rumah yang teduh, terdapat taman, kolam, dan sungai. Tak lupa oleh mu adanya perpustakaan, surga yang juga dipenuhi kenikmatan menelan pengetahuan. 
Di dunia, pengetahuan mu terpantul dari dalam dan luasnya kata-kata mu, terbukti dari kebijaksaan mu merelai dua kutub yang saling membelakangi. Ketenangan dan kelembutan mu selalu mengkhawatirkan musuh-musuh yang angkuh dan egois. Tujuan mu seakan sudah didekapan, tetapi langkah mu tiada henti berjalan.

Sekarang kau telah mati, apakah engkau telah menempati harapan-harapan itu?.

Hentak

Kapan kita bisa menari kawan, apakah terlalu dalam lumpur yang menawan mu?.
Mengapa tak bergoyang jiwa mu dengan kegembiraan ini, apakah yang selama ini kau tunggu?. Bukankah selama ini kau dalam kesibukan tanpa pernah meletakkan apa yang kau rindukan. Mengapa menyiksa diri mu sendiri, jika memang sudah tiada lagi sisa kesabaran, pergi dan jadilan serangga yang menyatu di cahaya lilin itu.

Manakah perkataan yang penuh kepuasan mu dulu, apakah kesedihan telah memperbudak kesadaran mu?. Hujan telah turun, angin telah memabukkan pepohonan, pertunjukan seniman telah dimulai, manakah loncatan-loncatan kekanakan mu?.

Tuesday, April 6, 2021

Muka Muda

Cinta adalah bius, obat pahit akan mudah tertelan dengan sekedar bayang wajahnya. Jika cinta harus dapat terpegang, air tak mampu kau simpan dalam genggaman, dia akan meresap dan menetes, tergenang dalam perangkap takdir. 

Biarlah cinta itu bagaikan angin, yang menari dan berhembus semaunya, tak perlu kau tahu dari mana asalnya, tak penting kau mengerti ke mana perginya. Kelembutan cinta tak harus berwujud, namun desirannya selalu membawa mu bersujud.

Jika cinta itu harus membeku, sehingga dapat kau simpan di saku baju, itu adalah harapan bagi seorang pecinta, terpelanting setinggi angkasa, karena mata menjadi lebih jauh memandang saat cinta telah memantik buta.

Biarlah keharuman dan kebusukan tercium bergantian di pelataran cinta, sampai dia mengusik ketegasan akal dan kelembutan jiwa. Sampai pujian dan cacian karenanya menempati kandang kepantasan, menyuburkan atau menggugurkan tulisan para penyair muda.

Kesulitan termudah

Jalan panjang telah terlewati
tetapi sekedar langkah kaki
bukanlah perjalanan sejati.
Lelah dan tetes darah terakui
saat mata berhadap yang dicari
roboh tubuh hanya mampu terhenti.
Perjalanan yang dibanggakan diri
tiada muka terkecoh cahaya duri.
Manusia siapa yang berani
menghadang ombak tinggi
rasa ingin memburu sensasi
Kaku terjerat proyeksi mati.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...