Sunday, November 29, 2020

Terbentur

Kekecewaan manusia terhadap dunia dan penghuninya, yang menyebabkan manusia kembali ingin mendekat kepada Tuhannya, tidak selalu dapat dikatakan sebagai pengalihan pandangan semata, bukan sekedar pelampiasan keberpalingan belaka, tetapi semua itu adalah pertunjukan yang sebenarnya, dari apa yang selama ini dipercaya, dari berhala-berhala yang lebih dicinta.

Saat muka-muka terkelupas, maka yang tertinggal adalah kebenarannya, dari rasa kengerian dan terbakar itulah, manusia mendapat petunjuk keselamatan.

Dimensi dari kekuatan sangatlah beragam, keindahan adalah kekuatan untuk menarik,
Keburukan adalah kekuatan untuk menolak,
Keharuman memiliki kekuatan agar bertahan,
Kebusukan memiliki kekuatan agar meninggalkan.

Kehidupan manusia tidak hanya dapat terganggu oleh keburukan dan kebusukan, tetapi juga dengan keindahan dan keharuman. Keseimbangan adalah bagaimana mengelola semua itu secara baik, agar roda hidup dapat sampai dengan selamat. Semoga hidup semakin damai, aamiin.

Kesabaran

Para bijak telah banyak tersakiti oleh manusia yang terliputi ketidak-tahuan, tetapi para bijak tetap mengedepankan harapan kebaikan bagi mereka di kemudian hari. Kesabaran adalah bukti dari pengetahuan mereka, sedangkan sumbu pendek terdapat pada genangan yang dangkal.

Saturday, November 28, 2020

Kasih

Banyak waktu telah kau habiskan, hanya untuk menentukan siapa yang salah dan pantas dilenyapkan. Satu hal yang dapat dipelajari dari kesombongan, karenanya adalah kehinaan. Tetapi kebencian dan dendam selalu membawa bibit penyakit pula, membutakan mata hati dan kesadaran, membusukkan kekeringan dari penderitaan, namun lihatlah pada pemilih cinta dan belas kasih itu!, mereka akan selalu menawarkan kedamaian, karena di atas tangga keadilan terdapat pemberian maaf, posisi yang lebih terhormat.

Hidup dalam arena benar salah tak akan mencapai penyelesaian, hidup dalam status menang dan kalah selalu menimbulkan kebanggaan dan kerendahan. Permusuhan yang tak ada hentinya, hanya akan menciptakan kemunduran, pengetahuan yang digunakan hanya untuk saling serang, menjadikan kemajuan itu tak bermakna, menimbulkan lebih banyak kecurigaan dan kesedihan.

Prinsip dan keyakinan hanyalah ranting dari sebuah pohon kebenaran, kasih sayang adalah akar yang menghidupi dan menegakkannya. Tak apa jika kau merelakan sebagian atau seluruh ranting itu terpotong, tetapi jika akar telah lapuk teracuni, maka kebenaran akan segera mati.
Manusia selalu melihat kebenaran dari matanya, melupakan apa yang tersembunyi di balik tanah. Tidak pernah sabar untuk berprasangka buruk, lemah menahan untuk kepentingan pribadi, penderitaan manusia yang sesungguhnya adalah hilangnya kasih sayang, karena itulah satu-satunya alasan murni kerelaan manusia untuk dapat melanjutkan hidup. Tak ada kehidupan, jika dalam diri manusia tak ada kasih sayang, kasih sayang lah yang mengikat semua makhluk, agar terus dapat bertahan dan berkembang. Keserakahanlah yang telah menguliti muka manusia, menampakkan kelicikan dengan terang benderang, mengharap dapat menutupi bumi dari cahaya matahari, dapatkah adalah kesia-siaan?.

Monday, November 23, 2020

Terimakasih

Terimakasih untuk bumi dan langit yang Kau atur, selama ini belum terlalu buruk aku rasakan. Bertahun-tahun aku masih hidup, memiliki harapan untuk kebahagiaan. Lebih jauh banyak waktu aku tertawa, dari pada menangis karena derita. Jatuh tak sampai membuat kakiku patah, terbanting tak sampai membuat kepalaku pecah, syukur ini aku haturkan dengan kesadaran, kebaikan ini memang tak mampu ku hitung, meskipun masih tersimpan banyak tuntutan, kepada Mu permintaan banyak terus akan ku sampaikan.

Aneka Soal Perut

Ketepatan dalam membahasakan sesuatu adalah salah satu wujud kecerdasan. Semakin banyak apa yang tersajikan maka kemungkinan kesalahan akan berbanding lurus. Apabila kesalahan
tersebut tidak terjadi, itulah ketelitian.

Sakit dan Rahmat

Mungkin, kesedihan itu salah satu cara Tuhan mengajari kamu sesuatu yang hanya dengan kesedihan itulah kamu dapat memahami, tidak dapat dengan cara lain. Gembiralah dengan kesedihan itu, karena kesedihan itulah rahmatnya.
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Segar

Apakah hendak kau mewartakan kata hati, tempat yang sesak penuh kobaran api, tetaplah menjadi kuat dan terkendali, seperti puisi "luka akan kau bawa berlari-lari".
Jangan kau beri celah pada tumpahnya emosi, kau harus lebih tegar dan percaya diri. Beberapa jalan telah kau lewatkan, banyak waktu sudah kau habiskan, apakah kejatuhan itu akhir pemberhentian?. Teruslah melangkah kaki, menuju apa yang kau cari, selama ini, hakiki.

Jatuh

Saat kamu berfikir "hitam" terhadap orang lain, mungkin saja kamu sendiri yang telah menghalangi penampakannya.
Bagaimana mungkin kamu mencari sesuatu
dengan cara membelakangi arah cahaya.
Naik sedikit sudah "nggeblak", turun sedikit malah "kejlungup".

Sunday, November 8, 2020

Putih Waktu Kecil

Terceritakan pada masa lalu, seorang anak kecil yang banyak takut dan menangis. Dia salah seorang anak yang diberikan Tuhan untuk belajar arti kesabaran dan keberanian dalam hidup sejak dini. 
Penulis akan menceritakan satu sisi kehidupan anak kecil itu, karena sudah pasti dari banyak sudut galian yang membangun karakternya, maka satu alasan tidak cukup memenuhi kelengkapan, namun sedikit ini semoga bermakna.

Selamat membaca, semoga ada kebaikan...

Pada sebuah dusun yang masyarakatnya masih cukup konservatif, tentu semakin banyak anggota berarti semakin kuat, maka sudah menjadi budaya jika penduduknya berperilaku mencari pendukung untuk menjaga eksistensi diri. Tidak terkecuali anak-anak dalam dusun tersebut, seperti pohon pisang memperanak tunas yang tak jauh jarak dan sifat dari induknya, mereka hidup dalam kelompok-kelompok untuk dapat terjaga dari gersang keterasingan. Tidak urusan pemimpinnya siapa, baik atau buruk tidaklah penting, tujuannya adalah untuk aman, dari pada terancam. Hidup menjadi budak pengusa, diyakininya lebih berharga dibanding merdeka berlawan para penganiaya.

Diantara keceriaan permainan tradisional saat itu, dia cukup dikenal menggemaskan, anak yang sering mengeluhkan sulitnya untuk belajar, jarang bicara tentang banyak usaha yang telah dilakukan, tetapi sepertinya "ketidak mampuan" terus melekat dalam anggapannya. Diperparah dengan sifat polos kekanakannya yang murni, mengikuti angin kemanapun pergi, telah membuatnya semakin mudah dipermainkan oleh "kelicikan kekanakan" kawan-kawannya. Dia dikenal "kurang", lemah, dan dapat dipermainkan. Anak yang menyedihkan itu sebut saja "putih", karena dia banyak bermimpi setinggi awan, memiliki dunia yang ia ciptakan dalam imaginasi.

Persahabatan telah dicobanya untuk mengobati kesendirian, dibinanya dengan baik hubungan itu. Namun pada suatu ketika, semua itu tidak berlangsung lama, sahabat-sahabat yang disenanginya itu seperti juga hendak menjaga gengsi, bersahabat dengan putih dipikirnya hanya akan menciptakan kerugian, putih adalah anak yang suka diganggu dan tidak mampu membela diri, lebih baik ikut kelompok yang mendholiminya dari pada terdholimi jika bersamanya, berakhirlah putih yang sebenarnya baik dan menyenangkan itu dijauhi sahabat-sahabatnya, mereka takut jika nasibnya sama dengan putih yang suka dijadikan bahan tawa. 

Tercerabutlah satu per satu teman-teman yang dianggapnya sudah cukup dekat dan dapat dipercaya, putih merasa kecewa, dia semakin merasa rendah diri, hidupnya seperti tiada yang mengharapkan. Dia tidak suka sekolah, bukan hanya karena ia merasa tidak pintar, tetapi juga karena kawan-kawannya yang suka memukuli kepalanya tanpa alasan. Diperlakukan dia layaknya barang yang tak punya perasaan, seperti tubuh kebal tanpa kesakitan, padahal dia banyak sedih dan lebam.

Hari berganti bulan kemudian tahun, lelah keadaan mengharuskannya mengambil keputusan, dia harus melawan, sudah tidak perlu ada lagi yang ditakuti, disadarinya hidup punya harga diri. Ditaklukkannya ketakutan yang selama ini membayangi, dia hendak merubah hidup, menghabisi segala sakit hati, yang ditunggunya adalah kesempatan, menanti pemantik untuk dia dapat membakar, membalas segala dendam yang menghantui, melepas segala sesak yang selama ini tertahan.

Suatu hari, didapatkannya kesempatan itu, hendak dijadikan gendang lagi kepalanya, seperti payung bertemu hujan, layaknya cahaya menelan gelap, berbaliklah anak kecil itu membalas, seperti kadal jadi buaya,  dijadikan musuhnya diam tak berani bersuara, inilah hari kemenangan baginya, semua kawan-kawan yang biasa mendholimi dan telah menghianatinya ditantangnya, semua hanya melongo tidak menyangka, mulai saat itu, tidak ada lagi yang berani menggangu, setiap kali ada yang hendak mengganggunya tak sadar karena kebiasaan dulu, ditatapkannya mata padanya, tak perlu kata terlontar sudah menyingkir, dia sudah berhasil melawan dan menang.

Kemenangan yang memuncak itu tidak membuat hidupnya lepas dari kesepian, masih belum ada sahabat yang dapat dirangkulnya, sendiri tak ada lawan maupun kawan, memang dunia tidak banyak menawarkan pilihan, dia merasa cukup melakukan sesuai dengan keadaan yang ada, semoga pada saatnya semua berubah lebih bahagia.

Hiduplah dia dengan pemikiran bebas, karena ia terbiasa berotonomi, sikap kemerdekaannya terlihat jelas dari gaya bahasa saat menanggapi persoalan.

Kalau diambil cermin dari kisah itu, maka bisa dikatakan beberapa hal yang tersirat, diantaranya:
Jangan mudah menghakimi anak kecil yang tidak pandai bergaul, karena mungkin saja pergaulan itu sendiri yang membuatnya seperti itu.
Dunia pendidikan itu untuk belajar, bukan untuk melabeli pintar. Pengawasan guru sangat diperlukan, untuk menjaga kesehatan mental muridnya.
Siapapun berhak tetap memiliki semangat , karena potensi positif ada pada masing-masing anak. Hanya saja sistem penyeragaman itu yang sebenarnya malah menimbulkan kesan pembeda-bedaan.

"Semuanya punya kebaikan", kata bijak seorang bocah lain yang penuh keyakinan berkata pada ku.

Wednesday, November 4, 2020

Tuah keikhlasan

Pada saatnya nanti, sepertinya sedikit yang mampu bertahan, lebih banyak yang akan menyerah, terjatuh lelah menggenggam prinsip, kemudahan langkah yang belum tersapa "sihir dunia" , hanya kehormatan palsu yang tak teruji.

Saat ini, boleh manusia tersenyum dengan keteguhannya, tetapi masa depan dapat diluar rencana, selama di sini tiada kata selesai, hidup selalu bergerak dan tiada yang tahu akhirnya.

Semakin hari, api itu bukan semakin redup, tetapi lebih berkobar, didorong angin agar menyebar, menyakiti dinding-dinding kesabaran.

Dengan apa lagi kepala dapat tegak, hati menunduk rendah terperosok kesombongan. Apa yang pernah terlontar, menumbuk balik kepala pelempar.

Sosok itu memang hebat, perkataannya seakan bertuah, menyerang dengan halus kepada yang tak percaya, merobek-robek mulut para pencela. Hingga pada saatnya,  kebijaksanaannya merombak hati pendengki, karmanya menusuk jiwa para pembenci, mengembalikan mata sadar para durjana.

Saat ini, tidak lagi, jangan lagi, menentang apa yang diucapkan, ketakutan juga berguna bagi keselamatan, cukup diam dan berperasaan baik, tidak berlebihan.

Sunday, November 1, 2020

Ukuran

Semua ini tidak untuk menjadi suatu ketegasan, apalagi sebuah keteguhan, sudut pandang dari berbagai sisi, sudah semestinya menghasilkan bayangan yang beraneka, maka jangan terlalu kau tinggikan, tidak perlu pula begitu direndahkan, ukurannya terletak dalam suatu kebijaksanaan, tidak melulu tentang "penghakiman", bukan dengan telapak kaki berada di atas bumi yang selalu berbeda, tetapi dalam waktu yang tak pernah juga sama. Menghargai dan selalu mengoreksi diri.

Dua

Kemajuan pengetahuan dan teknologi, seharusnya menambah penguatan iman, bukan hanya dalam arti "institusi formal", tetapi juga yang fitrah. Namun nyatanya bukan selalu begitu adanya, sajian tantangan kontra juga muncul, sesuai dengan kondisi yang ditawarkan.
Selagi ada terang, semacam membutuhkan gelap untuk meneguhkan arti cahaya. Mengapa mesti membuat keputusan ada dan tiada?.

Kesan zaman awal hingga detik ini, pencapaian olah panca indra dan akal selalu menumbuk dinding pembatas yang tak mampu dilewati.
Jejak sejarah yang diperlihatkan Tuhan untuk manusia saat ini, apalagi tentang warna pemujaan kepadaNya, seharusnya membuka mata dari pentingnya makna kemanusiaan. Kepercayaan yang bertumbuh, berkembang berdasarkan keadaan hidup, bermetamorfosis menuju bentuknya yang lebih sempurna. Kebenaran yang diusahakan murni dengan potensi kemanusiaan adalah sudah suatu cahaya, menumbuhkan kesegaran nurani dari sumber yang digali kemanusiaan itu sendiri.
Semua itu adalah cara Tuhan, untuk menyatakan kepada kita, Dia menghargai perjalanan manusia, menghormati segala bentuk pendekatan yang ditujukan untuk mencari jawaban. Tuhan menciptakan kemanusiaan, Tuhan memberikan kemerdekaan. Dia tidak hendak menciptakan tatanan hidup secara mekanis, tetapi membentuk kesadaran kebaikan hidup, bukan hanya dari hujan yang turun dari langit "seperti kata mu", tetapi juga dari mata air kemanusiaan. Bukan subtitusi, tetapi komplementer!.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...