Refleksi Pembelajaran Pengantar Perspektif Sosial, Budaya,
Ekonomi, dan
Politik dalam Pendidikan Indonesia
Sebelum mempelajari perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik
dalam pendidikan Indonesia , terdapat anggapan bahwa hal-hal terkait sosial,
budaya, ekonomi, dan politik tidak terlalu penting untuk dipelajari. Hal
tersebut karena pandangan awam bahwa seorang guru hanya perlu belajar dan mengajarkan
apa yang ada di buku dengan logo kurikulum terbaru. Pengalaman selama menempuh
pendidikan dasar hingga menengah, peserta didik kurang mengetahui bahwa
terdapat banyak faktor yang mempengaruhi ekspektasi dan kualitas pendidikan yang mereka alami
Menjadi guru yang profesional tidak hanya tentang penguasaan
materi ajar dan kemampuan mengajarkannya, tetapi juga kemampuan memahami
kompleksitas konteks di sekitar peserta didik. Sosial, budaya, ekonomi, dan
politik adalah faktor yang saling terkait dan membentuk realitas pendidikan. Faktor-faktor
ini, pengaruhnya tercermin dalam sejarah pendidikan Indonesia di masa kolonial.
Sampai saat ini, faktor-faktor tersebut tetap relevan untuk dikaji oleh guru
yang profesional.
Pertama, faktor sosial dapat mempengaruhi bagaimana
menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Pada masa kolonial Belanda,
pendidikan dibatasi untuk kalangan tertentu sehingga memperdalam kesenjangan
sosial. Saat ini, guru harus peka terhadap keberagaman latar belakang peserta
didik karena dinamika sosial di satuan pendidikan bisa dipengaruhi oleh
perbedaan status sosial. Dengan memahami hal ini, guru dapat mencegah
diskriminasi, membangun empati, dan kolaborasi, seperti yang diperjuangkan oleh
organisasi PGHB yang berusaha melawan sistem diskriminatif kolonial. Berdasarkan
hal ini, guru dapat mengerti bahwa inklusivitas adalah warisan perjuangan yang
harus terus dijaga.
Di masa penjajahan, budaya Barat dan Jepang mempengaruhi pola
fikir peserta didik, hal ini dikhawatirkan akan mengikis nilai lokal dan
identitas mereka sebagai manusia Nusantara. Melalui culturally responsive teaching, terdapat solusi
untuk menghubungkan materi ajar dengan konteks budaya peserta didik. Guru perlu
menyadari bahwa menghargai keragaman budaya bukan hanya tentang metode, tetapi
juga membangun identitas peserta didik sesuai dengan latar budaya mereka
masing-masing. Faktor budaya yang mempengaruhi pendidikan ini perlu dibuka dan
dibahas agar perspektif ekspektasi kebermanfaatan pendidikan dapat diperluas
dan lebih dihayati oleh masyarakat dan peserta didik.
Ketiga, faktor ekonomi sering kali menjadi pendorong dan penghambat
akses pendidikan. Pada masa kolonial, pendidikan bagi kalangan bawah hanya
menghasilkan tenaga kerja murah. Saat ini, guru harus aktif mengidentifikasi
peserta didik yang kesulitan ekonomi. Misalnya, dengan menyediakan sumber
belajar murah atau bahkan gratis dan menghindari layanan pendidikan yang
memerlukan biaya tinggi. Tugas guru adalah memastikan bahwa kemiskinan tidak
lagi menjadi tembok penghalang belajar.
Keempat, kebijakan politik selalu berpengaruh pada
pendidikan. Pada era kolonial Belanda dan Jepang, penjajah menggunakan
pendidikan sebagai alat kontrol untuk mencetak pegawai rendahan dan tenaga
perang. Kini, kurikulum dan kebijakan pendidikan harus dikaji oleh guru
profesional agar pemahamannya lebih aktual, sehingga guru dapat menerapkan
secara optimal, memberikan saran, dan kritik terhadap kebijakan agar pendidikan
tidak untuk kepentingan sepihak atau hal-hal kurang relevan dengan kebutuhan
pendidikan Indonesia. Hal ini mendorong guru profesional perlu kritis dan
adaptif, tidak hanya menjalankan kebijakan, tetapi juga memperjuangkan keadilan
dan kebutuhan generasi bangsa.
Secara keseluruhan, memahami konteks sosial, budaya,
ekonomi, dan politik menjadi sangat penting dalam mengembangkan diri sebagai guru
profesional. Dengan pemahaman tersebut, guru tidak hanya dapat menciptakan
lingkungan pembelajaran yang lebih inklusif dan relevan, tetapi juga dapat
mengatasi tantangan yang dihadapi oleh peserta didik dari berbagai latar
belakang. Dengan pemahaman ini, guru profesional akan mampu menegemban amanah
pendidikan dengan lebih optimal.