Aku dengan waktu sebelum terbit matahari, mencoba merasakan sapaan alam dan kesejukannya. Mencoba mengalihkan ingatan dari wajah yang sering nampak sebagai impian. Memang, senyuman itu merangkum segala hiasan langit, atap tak mampu menghalingi ku dari rindu, hanya kenyataan yang membuat ku bisu.
Dahulu, dikisahkan seorang pemuda yang begitu mencintai istrinya, hingga tiba waktunya sang istri pergi meninggalkannya, katidak-cocokan gaya hidup, merasa sang suami banyak kekurangan. Pemuda itu pun menyetujui permintaan sang istri karena tidak mau menjadi beban baginya, tapi pemuda itu belum tahu arti perpisahan, hari demi hari dia belum sadar apa yang sebenarnya terjadi, begitu minggu berganti minggu bulan berganti bulan dia mulai sadar apa arti perpisahan itu.
Dengan berbagai alasan siapa yang benar dan siapa yang salah tidak lagi berarti, dia merasa bersalah karena tidak memiliki kemampuan sebagaimana yang sang istri harapkan, kini dia hanya dapat memandang langit dengan kekosongan.
Dia mendatangi mantan istrinya, memintanya kembali, berharap segalanya dapat diperbaiki. Tetapi dengan mata yang tak lagi sama, mantan istri tersebut ternyata telah memiliki calon suami.
Mengemislah dia padanya, "akulah orang yang paling mencintai mu di dunia, selain keluarga mu. Orang lain hanya tahu awal mu, akulah yang lebih mengetahui tentang mu, dan aku menerima mu, aku masih sangat mencintai mu."
Mantan istri tersebut sambil tersenyum sinis berkata, "jangan sok tahu, sudahlah, semua telah terlambat dan selesai."
No comments:
Post a Comment