Aku telah melempar serpihan jiwa ku kepada mulut waktu, aku telah dermawan kepada laku kegelapan. Punggung ku terasa bergetar hanya untuk secuil perjuangan, tetapi aku begitu kekar menantang kehancuran. Walau begitu, Aku telah menelan api ke dalam perut, tetapi malah dari mu keluar asap yang merenggut. Duhai, sangat disayangkan, seharusnya biji dapat tumbuh, cabang-cabangnya adalah kesempatan, banyak bunga akan mekar.
Tetapi nyatanya, aku selalu terbutakan oleh panah-panah yang menawan, tertulikan oleh kemerduan suara-suara kepalsuan. Aku selalu dihantui oleh pandangan setan, dipaksanya aku menuju kelumpuhan.
Ooo,, kekejaman, mengapa kau selalu mengintai, hutang apa yang harus aku lunasi. Aku telah pergi, tetapi kau mengikuti, aku telah menutup mata, tetapi engkau meraba. Apakah tak cukup lumpur neraka itu kau hempaskan pada wajah ku, sehingga aku harus menunduk dari kemurahan mentari, hingga seakan aku tak lagi mengenal kebaikan, seakan aku tak lagi peduli pada kehidupan. Dengan cara apa aku menegakkan muka, mata-mata itu bagai mata pamangsa, tajam, menerkam, seakan menyeretku ke pengadilan Tuhan.