Saturday, October 1, 2022

Bulan dan Kesendirian

Bulan, ku kira kau akan terus bersinar, meramaikan ruang jiwa yang sunyi, mencahayai mataku ku yang menanti.

Bulan, ku kira kau akan terus di sana, membuat ku terpana, walaupun berganti hari, kau akan datang lagi.

Bulan, maka saat ini, kemana engkau pergi?. Apakah engkau tak lagi sudi, dibawah sinarmu aku berdiri.

Bulan, bukankah telah aku katakan, setiap malam aku akan menemui, mengantarkan mu kepada pagi.

Bulan, namun sekarang, setiap kali aku datang, awan hitam selalu menghadang. Apakah kau telah mengunci pintu, membiarkan semuanya berlalu.
Bulan, memang aku, bukanlah matahari yang mampu menyalakan hidup mu. Aku, bukanlah lautan yang mampu menjadi cermin keindahan mu. Aku, hanyalah manusia, yang terlena karena rasa, saat malam purnama, kau tampakkan nyala itu, semua bagai kesempurnaan mimpi, seakan kau serahkan seluruh bumi kepada hati ini.

Tanaman Yang Layu Akan Segar Kembali

Tidak ada manusia lain yang pernah merasakan bagaimana menjadi diri mu, dengan rentetan alur kisah keseluruhan yang kau alami, yang membentuk bagaimana cara mu bersikap, bagaimana cara mu memandang semua, bagaimana reaksi mu terhadap impuls yang di suguhkan kehidupan, bagaimana keadaanmu saat ini, dan hal-hal lainnya.

Percaya kepada diri mu dengan keadilan refleksi pribadi mu sendiri. Karena terkadang walau karena orang lain peduli, mereka tetap kesulitan menangkap apa yang sebenarnya terjadi dengan konteks diri mu, mereka masih terus dan akan terus menggunakan koteks mereka sendiri.

Sekali lagi jadilah diri mu sendiri, jangan siksa diri mu dengan karena orang lain hendak merampas hakekat hidup mu, membuat ukuran-ukuran yang membuat mu sebagai definisi dan konklusinya. Tetapi engkau harus waspada, mana obat dan mana racun, mana lurus dan mana sesat.

Kuatkanlah jiwa mu, kuatkanlah, walau dan karena engkau tak selalu benar dan mampu terus menerus dalam kebaikan.

Kemudian kepada asap gelap dan hujan asam, racun-racun jiwa itu, yang hendak melayukan kesegaran perjuangan, usirlah dalam ketenangan, bagai angin yang membentur tembok kokoh.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...