Friday, October 15, 2021

Pasrah

Terimakasih kepada batu dan badai, pertunjukan itu akan aku benamkan dalam kesadaran, walau bekas-bekas lepuhan itu masih terus basah, semua itu demi kesembuhan, kegilaan yang tak pantas merenggut kehidupan.
Rasa sakit yang pada hakekatnya seperti musuh yang memberikan keuntungan, hantaman dan tusukan itu untuk kesejatian. Aku tidak peduli dengan penyerahan, selama aku mampu menerimanya dengan kepantasan. Tetapi aku telah bersabar, menahan sekuat jiwa hingga bergetar, untuk apa aku meracuni akar dan membusukkan bunga?, begini bukanlah sikap yang berisikan makna.

Hitam, putih, coklat, biarlah semua tersatukan dalam wajah-wajah kemanusiaan.

Tetapi tentang keadilan, siapakah yang tidak ketakutan?, di bawah mata Tuhan, di pucuk batang pedang, siapakah yang telah rela menerima kenyataan?. Siapakah yang dengan lantang dan berkesadaran menyatakan dirinya adalah kebenaran?.

Dalam naungan fikiran dan nurani, luapan api yang buas itu, menahan diri dan mencoba terus diam, hingga menanti apa yang selayaknya terjadi, hingga bertahun-tahun, luka itu seperti kawan, walaupun merana, semua itu telah menjadi biasa, walau bukannya tidak terasa.

Bersabar terus kawan, waktu akan datang, perkuburan dalam penantian, perayaan akan hilang. Penderitaan dunia akan sirna, kehidupan selanjutkan akan terbuka.

Mencemooh perjuangan yang seakan tak berguna, bersujud terhadap nafas panjang kebodohan, mempertanyakan hilangnya harapan dan cita-cita, semangat jatuh tercerai berai lenyap berantakan. Semua itu, melembutlah kawan, sudah cukup larut dan terkerut raut wajah mu yang bersinar, kembalilah pada kesegeran, tegarlah dan jalani hidupmu dengan kekar!.

Biarlah Dia yang benar itu satu-satunya!. Dia yang tak terkira dan tak terpaksa. Jangan menuntut Tuhan untuk memihak, seharusnya kesadaran penghambaan atas seluruh makhluk sudah tak perlu ditanya.
Apakah Engkau terus memaksa Tuhan untuk membenci dan memusuhi manusia-manusia yang menyakiti mu kawan?, Apakah Engkau hendak menjerat Tuhan untu berada di sisi mu dan membela mu kawan?. Sudahilah, jangan terus menggerutu agar Tuhan menghancurkan ciptaannya sendiri!. Ingatlah pada perjalanan mu, engkau dalam perjalanan!, sama seperti semua makhluk pun dalam perjalanan, semoga kehidupan semakin sejuk damai.

Thursday, October 7, 2021

Mencari Mu

Kemana Engkau pergi?, aku ini terus mencari. Jiwa ku terasa letih, luka-luka ini terasa perih. Penantian sudah terasa panjang, dunia terasa mengerut tak lapang, pergantian hari sekedar undian kesabaran dan kesyukuran, menerima apapun yang terjadi bukanlah pilihan, tetapi penyadaran, pengakuan.

Hilangkanlah keberadaan yang penuh keterasingan , seperti ucapan tuan-tuan yang mengatakan "andai aku tidak pernah terlahirkan, andai aku hanyalah sebuah dahan.".

Mengapa Kau buang, bunga-bunga yang terbayang, doa-doa telah terlayang, namun kenyataan seakan terlarang. Apakah aku bumi sedangkan Kau mentari?, walau daun tak pernah membelai perakaran, Dia akan terus memberi kehidupan.

Saturday, October 2, 2021

Warisan Dendam

Generasi yang saling dendam dan menuntut tanpa ujung karena sejarah yang digulirkan tanpa kejelasan perlu dihentikan untuk kemanusiaan dan masa depan. Siapapun tidak akan rela jika leluhur menjadi cibiran dan masyarakat yang melabeli produk tanpa pernah melihat pabrik besarnya menjadi pemulut kotor dan pengobral fitnah tanpa pembalasan.
Akankah warisan kebencian itu tetap hidup dan mecitakan pertikaian?

Tetapi Kau diam!

Kau redup, seakan ingin mengatup.
Mata terhalang mendekat, seakan Kau membangun sekat. Sebutan nama telah terucap, tetapi hujan akan turun dan terhenti bertahap!, begitukah yang Kau harap?.
Bisikan itu seakan nyata, dalam menerkam prasangka. Tetapi biarlah manusia bercerita, jujur atau dusta biarlah sekedar duga.

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...