Tuesday, August 24, 2021

Keterlenaan

Sebagian pengetahuan itu dapat diyakini kebenarannya bukan dengan mengetahui argumentasi teoritisnya, tapi bukti praktis atau empirisnya. Bukankah ilmu pada hilirnya itu bukan untuk dihafal atau teka-tekikan, tetapi untuk diterapkan dan dirasakan, kemudian menjadi kebenaran, dapat berperan untuk harapan, kesejatian?.

Memang, dalam proses ada pengenalan, ada abstraksi, tetapi jika hal sehari-hari saja tidak terjadi koneksi, konotasi, apakah kita akan terus menjadi pemimpi?. Ada hal-hal yang telah kita pelajari sejak kecil, sebagian berguna, sebagian sekedar sebagai memori, namun sebagian sampai sekarang ada yang masih menjadi misteri, terkadang tersimpan dalam penjara kebimbangan yang menghantui, apakah yang kita pelajari dari dulu sampai sekarang itu ada yang bohongan ?.

Bagaimana dapat disebut pengetahuan, jika tidak kita yakini bahwa di dalamnya memang terkandung kebenaran?. Bagaimana cara pengetahuan yang kita dapatkan itu dapat menunjukkan kebenarannya dalam kehidupan kita?, sehingga dengan kebenaran itu dapat memunculkan kebaikan dan memekarkan keindahan?.

Jika kehidupan yang kita alami itu sepenuhnya adalah diri kita sendiri yang merasakan, baik sebab maupun akibatnya, maka sebenarnya otoritas individual atau otentisitas diri menjadi indikator yang tak tergantikan. Sudah cukup kita bicara dari "kata ini dan itu", sudah saatnya kita berusaha menggapai "kata ku", sedangkan "kata mereka" sebagai unsur konfimasi, tersier, atau bahkan pembanding, sekali lagi bukan sekedar teori, tapi hasil mengalami. Pengalaman adalah jalan satu-satunya yang tercepat, di tengah riuh pengetahuan yang dicetak, apalagi sekedar angan-angan yang diunggah di media sosial.

Kelemahan diri yang terkadang sekedar ingin mengakhiri bukan menyelami lapis demi lapis, telah menguras waktu dan energi, serta menumpuk informasi tanpa esensi. Budaya yang semakin hari menghidangkan lautan kenikmatan yang berkonotasi sampah, telah mengenyangkan jiwa kita dengan buih-buih, sehingga tidur kita dipenuhi mimpi-mimpi dusta.

Sudah saatnya, kita menutup sebuah halaman dengan pengamalan yang ditawarkan, agar kita tidak tertipu mengejar pengetahuan, namun tidak merasakan kebenaran. Supaya kita tidak sekedar menumpuk kumpulan jawaban berbentuk simbol, huruf, dan angka, namun kita membangun tangga untuk menggapai rasa.

No comments:

Post a Comment

Menanti Sebuah Mimpi

Entah sampai kapan sebuah harapan akan terus tergenggam, bertahun-tahun tak pernah lepas dari gumaman. Kadang penantian terasa membosankan, ...