Tuhan,
Engkaulah yang sebenarnya satu-satunya tempat berharap.
Kepada Mu sebenarnya tujuan setiap makhluk.
Setiap keindahan hanyalah percikan dari pancaran keagungan Mu.
Apakah Kau membuat ku tersiksa dengan segala keindahan Mu?
Aku telah mabuk hanya dengan setetes lautan cahaya mu.
Aku telah berantakan dengan itu dan melupakan Mu.
Jika memang takdir ku
Perteguh keyakinan ku
Bukalah jalan Mu
Jika bukan bagian ku
Selamatkan hati ku
Padamkan api itu.
Bukankah aku termasuk hamba mu?.
Bukankah aku termasuk pengemis itu?.
Apakah yang aku punya jika nafas pun aku tak berkuasa?.
Sehelai rambut yang tertanam pun bukan aku yang melakukan.
Lalu siapakah aku jika bukan pengemis di hadapan mu?, Tuhan.
Sekarang aku memohon bantuan, sebagaimana satiap hari aku meminta, tetapi saat ini aku merasa sungguh sedang pusing, tentang apa yang selayaknya aku lakukan. Siapakah yang sebenarnya perlu aku kenal kecuali diri ku sendiri, sehingga aku sadar perlu mengenal dan mendekat pada Mu, Tuhan. Walau sebenarnya aku tak berlangkah dan mati, dan Engkalulah yang ada dan satu-satunya.
Tetapi umur mulai mengganggu, terkadang hati pun ingin bergurau. Dengan cara apakah aku tahu bahwa aku pantas atau belum, layak atau tidak?.
Apakah aku harus bercermin, sambil mulai menghitung bulu mata yang terkadang jatuh.
Tolong aku Tuhan, aku benar-benar merasa bimbang dengan semuanya.
Teguhkan hati ku, tuntunlah jalan ku dengan kelembutan Mu.
Maafkan aku, Tuhan.