Ku terima dan ku letakkan segalanya
Api duka dan air tawa yang mengarah
Dibalik suara yang penuh keanggunan
Biarlah rahasia yang menjadi pakaian
Nama mu dan segala bunga yang menawan
Suara pujian yang bersahut-sahutan.
Dan, kapan sesungguhnya kemenangan?.
Berapa kali keharuman bergandengan dengan kepalsuan?.
Lalu, kau melihat dengan cara mu yang seakan berbeda. Sesungguhnya kau tak benar-benar rela. Karena telinga mu belum mendengar, hanya mata mu yang terbuka.
Apakah hati itu tetap satu, terarah kepada kata yang sama?. Atau sudahkah kenyataan tiba, kemudian kau cabut segala percaya.
Jangan lagi kau menutup telinga, karena sebuah mata yang buta, karena engkau hanya membawa cinta yang terisi dusta.
Kau tahu, mendung saat ini mulai menyapa, gerimis dan segala rasa yang dimuatnya, racun dan segala tipu daya. Aku muak dengan itu semua, lagi pula aku telah lenyap, jangan kau datang dengan harapan, datanglah dengan penerimaan.
Apakah mungkin kesuburan datang dari kegersangan, apakah mungkin ketenangan datang dari jiwa yang terbakar. Seakan tersisa setitik kebajikan, seakan aku tak pantas untuk melanjutkan perjalanan.
Biarkan duhai angin malam, aku ingin tidur dengan nyaman, bersama mu kegelapan.