Jangan berharap daun itu jatuh di halaman rumah mu, pohon ini lahir dari biji yang dijatuhkan burung terbang, menetap pada liang batu yang terpenuhi bekas lumpur kaki kuda, betapa dangkal akarnya, mengkhawatirkan masa depannya, lalu pohon itu dilayukan oleh hujan asam, jatuh bangun dia bertahan, lalu mengapa engkau mengharapkan?.
Apakah sama yang putih dengan yang hitam, apakah mungkin terang dimunculkan dari malam?. Kau katakan dengan keyakinan. Ketahuilah!, engkau begitu arogan!. Itu bukan cinta, tetapi keserakahan!. Itu bukanlah pengabdian, tetapi kekafiran!. Hargailah manusia karena kemanusiaan!, dan kemudian kau melempar kesedihan tanpa kepedulian, kau begitu jijik melihat darah-darah cinta bercucuran.
Apakah hendak pohon ini menghisap air berlimpah dari danau senyuman mu?, pohon ini akan mati seperti tidak pernah menyentuh keluasan mu. Jangan samakan aku, karena aku bayi yang telah dilahirkan puluhan tahun, tua tetapi seakan pusarnya belum kering terpotong. Jangan membenci ku, karena aku buta dan hanya bisa bersuara, tetapi engkau tuli dan telah menuju surga?. Engkau memang benar-benar tak punya cinta!.