Aku ingin menemui Mu, seperti senyuman yang terbit karena rindu. Aku ingin menulis kisah Mu, karena kesabaran yang tak habis diterpa rayu. Engkau telah menebar keyakinan, walau tanah yang kering belum mampu menumbuhkan bebijian. Langit telah akrab dengan letupan rasa Mu yang terahasia, ucapan-ucapan Mu yang selalu sama dengan doa-doa. Hembusan angin seakan berebut menjabat telapak sutra itu, membawa keharumannya menuju alam yang satu.
Engkau adalah cahaya yang menyilaukan kesadaran, Engkau adalah bunga yang tersembunyi di balik bebatuan, Engkau adalah kesejukan dari ujung panjangnya siang, Engkau adalah peneduh yang lembut penuh kasih sayang.
Apakah yang pantas dikatakan batu, kepada bunga yang indah itu?. Apakah yang dimiliki seorang hamba sahaya?, kecuali menuruti kata sang raja. Kau, terus bekerja memutar butiran semesta. Kau, teruslah menerima!, debu hitam yang terdampar di depan pintu Mu, Kau adalah Tuan Rumah bagi semua.
Usia manusia bertambah, terasa sekejab, layaknya mimpi yang membalikkan kenyataan. Urusan turunan menjadi esensial, memenuhi citra bagi mata-mata yang buta, tertipu oleh selaput kebanggaan yang berisi khayalan. Selamatkan jiwa yang hitam!, sebelum dan setelah kematian dia mengharapkan Diri Mu, kebenaran.