Wakil penyalur bahasa zaman itu tertunduk dengan harga diri yang tercabik, dengki merenungi kemeriahan anak-anak dalam menyuarakan nama-nama dan pola-pola di luar kepala, seperti audio digital yang diputar dan berjalan tanpa pernah terjungkal, hebat memang perkembangan pendidikan.
"Topeng Kecerdasan" yang terbentuk karena sistem yang telah teruji, melebarkan konsep kemampuan acting bukan lagi dimonopoli dengan warisan dan kejeniusan. Tetapi, pemenuhan untuk menentukan pilihan, seharusnya diselarasi dengan adanya pilihan itu sendiri, adalah mimpi saat mengharapkan bidadari dan di dunia ini lelaki mencari.
Penghuni zaman yang berbeda generasi, tidak perlu disekat dengan dinding pembagian peran. Setiap murid adalah guru dan setiap rumah adalah sekolah, budaya adalah gen sosial, jika keteraturan yang selama ini terbentuk adalah buah dari kebiasaan rasa takut dan malu, maka jangan-jangan rasa cinta itu muncul karena terpaksa atau sekedar sugesti, bukan kesadaran yang beralasan dengan wajar, seperti seekor monyet yang dilatih untuk pertunjukan.
Para peternak memang menyukai kandang yang bersih dan kelenjar susu yang penuh, semua jenis usahanya bukan untuk mengenyangkan, tetapi menggemukkan, menampilkan pertunjukan untuk menarik pembeli. Saat manusia berjalan ke barat, otomatis dia menjauhi timur. Lalu, bagaimana dengan konsep sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui?.
Dimana letak kehati-hatian dan komprominya?.